Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/02/2018, 13:25 WIB

Jakarta, KOMPAS.com -  Meski sedikit terkendala soal masalah dengan Vietnam, tapi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) optimis pengiriman ke luar negerinya akan bertumbuh. Kenaikannya sendiri diroyeksi ada di angka 10 persenan.

Sebelumnya pada 2017 lalu, TMMIN berhasil mencapai rekor baru sepanjang perjalanan ekspornya dari Indonesia ke mancanegara sejak 1987. Total perolehannya sebanyak 199.600 unit, dengan sekitar 82.000 unitnya dikontribusi dari Daihatsu.

“Tahun ini diharapkan semuanya berjalan dengan lancar, dan kami proyeksi ekspor bisa naik 10 persen,” tutur Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia ( TMMIN) Warih Andang Tjahyono kepada Kompas.com, Selasa (13/2/2018).

Warih juga menyebut, kalau mereka mengupayakan wilayah baru tujuan ekspor. Daerah yang sedang disasar TMMIN yaitu beberapa negara di Afrika Utara, Amerika Selatan, serta beberapa negara di kawasan ASEAN dan sekitarnya.

“Kalau tahun ini kami sedang pantau tetangga dari Maroko bagaimana, seperti Aljazair dan Mesir. Kemudian yang berseblahan dengan Argentina dan Brazil mulai dari Chile dan Peru, lalu wilayah ASEAN ada Laos dan Mynamar dan lainya,” tutur Warih.

Baca juga : Toyota Indonesia Cetak Rekor Ekspor Sepanjang Sejarah

Arab Saudi menjadi negara kontributor terbesar ekspor Toyota Indonesia.KompasOtomotif-Donny Apriliananda Arab Saudi menjadi negara kontributor terbesar ekspor Toyota Indonesia.

Indikator pertumbuhannya berbasis pada proyeksi Bank Dunia memperkirakan ada growth positif ekonomi global pada 2018 bisa mencapai 3,1 persen, atau lebih tinggi 0,2 persen dari 2017. Sementara IMF memproyeksi, tahun ini laju pertumbuhan global bisa mencapai 3,7 persen atau lebih tinggi 0,1 persen.

GCC Belum Pulih

Terkait dengan ekspor ke negara yang tergabung di dalam Gulf Cooperation Council (GCC), Warih mengatakan pasarnya masih krisis. Pasalnya memang harga minyak dunia saat ini juga masih masih belum pulih.

“Kalau GCC masih belum normal market-nya, karen harga minyak saja masih sekitar 60 dolar Amerika Serikat per barrel belum 90 dolar AS, jadi step by step GCC market akan pulih lagi,” tutur Warih.

Per Januari 2018 lalu, harga minyak dunia menembus angka 70 dolar AS per barrel, di mana ini merupakan level tertinggi dalam tiga tahun. Ini juga sejalan dengan pemangkasan prodduksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minya (OPEC). Menteri Energi Uni Emirat Arab (UEA) Suhail Al Mazrouei mengungkapkan, ini dilakukan guna mencapai tujuan menghentikan banjir pasokan minyak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com