Mobil Nekat Terobos Banjir, Puluhan Juta Bisa Melayang

Kompas.com - 08/02/2018, 13:05 WIB
Caption : Luapan Kali Ciliwung memutus jalur kendaraan di Jalan KH Abdullah Syafiie, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (13/1/2014). Luapan kali mulai menggenangi permukiman dan memutus jalan sejak Senin dini hari. KOMPAS/AGUS SUSANTO AGUS SUSANTO Caption : Luapan Kali Ciliwung memutus jalur kendaraan di Jalan KH Abdullah Syafiie, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (13/1/2014). Luapan kali mulai menggenangi permukiman dan memutus jalan sejak Senin dini hari. KOMPAS/AGUS SUSANTO

Depok, KOMPAS.com - Curah hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya meningkat belakangan ini. Kondisi yang kerap terjadi saat hujan deras adalah munculnya wilayah yang dilanda banjir.

Bila menemukan jalan dengan permukaan air yang tinggi (melewati batas ban), pengendara mobil diimbau menghindar dan mencari jalan lain. Kondisi tersebut lebih baik daripada berspekulasi untuk dilewati.

Baca juga : Sampai Batas Mana Mobil Mampu Terjang Banjir?

Disarankannya pengendara mobil untuk mencari jalan lain bukan tanpa sebab. Karena menerobos banjir bisa menyebabkan mobil mogok. Dalam kondisi tertentu, mogoknya mobil bisa memaksa pemilik mengeluarkan puluhan juta bila ingin mobilnya kembali normal.

Suasana banjir di Perumahan Total Persada Kota Tangerang, Senin (14/11/2016). Banjir di Kota Tangerang disebabkan oleh luapan dari beberapa kali dan tersumbatnya drainase di sejumlah titik.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Suasana banjir di Perumahan Total Persada Kota Tangerang, Senin (14/11/2016). Banjir di Kota Tangerang disebabkan oleh luapan dari beberapa kali dan tersumbatnya drainase di sejumlah titik.

Service Manager Bengkel Auto2000 GDC Depok Deni Andrian mengatakan, kerusakan pada mobil yang bisa menyebabkan kerugian hingga puluhan juta adalah water hammer. Water hammer adalah kondisi ketika air masuk ke ruang pembakaran di dalam mesin.

Jalur masuk air paling memungkinkan biasanya dari saringan udara yang terlalu dekat dengan genangan air yang meninggi, ataupun dari cipratan air. Kerusakan akibat water hammer adalah bengkoknya setang piston yang juga berpotensi merusak komponen lainnya.

Baca juga : Jangan Panik kalau Mesin Mati Setelah Menerjang Banjir

"Jadi kalau masuk air terus mesin mati, salah satu penyebabnya bisa karena tendangan air ke piston sehingga pistonnya patah," kata Deni saat ditemui Kompas.com, Selasa (6/2/2018).

Ilustrasi mesin mobil.KompasOtomotif-Donny Apriliananda Ilustrasi mesin mobil.

Menurut Deni, kondisi lebih parah bisa terjadi jika pergerakan piston menghantam blok mesin. Sebab bisa mengharuskan mesin diganti baru. Adapun total biaya yang dihabiskan bisa mencapai kisaran Rp 50-80 juta.

"Kalau kerusakan sudah sampai merendam mesin, yang jelas harus ganti ECU (electronic control unit), ganti blok mesin. Habisnya bisa sampai Rp 50 sampai 80 juta," ujar Deni.

Tidak hanya kerugian materi, Deni menyebut proses pergantian mesin juga memakan waktu yang relatif lama. Karena suku cadang yang dibutuhkan bukanlah suku cadang yang langsung tersedia (fast moving) seperti halnya servis dan perbaikan biasa.

Mesin ini memiliki empat mesin orbital dan 256 piston yang didukung oleh kompresi udara.Josh Rowe Mesin ini memiliki empat mesin orbital dan 256 piston yang didukung oleh kompresi udara.

Belum lagi, lanjut Deni, pergantian mesin harus melalui proses pelaporan ke kepolisian. Karena polisi harus mengecek nomor mesin guna memastikan riwayat pemakaiannya. Tujuannya mencegah mobil yang berstatus curian.

Baca juga : Mobil Polisi dengan Alat Pendeteksi Mobil Curian

Karena mahalnya biaya perbaikan disertai rumitnya proses pengurusan, Deni mengingatkan pemilik mobil untuk tidak coba-coba menerobos banjir. Solusi terbaik bila menemui banjir adalah mencari rute lain.

Jika terpaksa melewati banjir, pastikan tinggi genangan air setidaknya 30 cm di bawah saringan udara agar tidak tersedot ke dalam mesin. Selain itu jaga putaran mesin tetap tinggi agar air tidak terhisap ke dalam knalpot.

"Jadi jangan nekat. Lebih baik menahan diri karena akan mahal resiko yang harus ditanggung," jelas Deni.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X