Kompas.com - 31/01/2018, 11:05 WIB
Salah satu motor modifikasi bergaya custom culture retro atau klasik buatan bengkel Street Art Custom. Fachri FachrudinSalah satu motor modifikasi bergaya custom culture retro atau klasik buatan bengkel Street Art Custom.
|
EditorAzwar Ferdian

Jakarta, KOMPAS.com - Tren modifikasi sepeda motor bergaya retro atau klasik kembali bergairah berapa tahun belakangan. Hal inilah yang membuat sejumlah bengkel modifikasi bermain di segmen ini.

Meskipun demikian, menurut Arie Indra Perkasa dari Street Art Custom, hal ini tidak membuat persaingan antar bengkel modifikasi dalam konteks meraih pelanggan. Tetapi justru membuktikan bahwa modifikasi bergaya retro atau yang sedianya disebut custom culture retro classic semakin diterima dan digandrungi masyarakat luas.

Selain itu, tren yang terus meningkat bisa berarti potensi positif jika ditinjau dari konteks bisnis.

"Bagus karena bisnisnya semakin bagus, dan berarti ada permintaan dari masyarakat," kata Arie saat ditemui dibengkelnya di Jalan Kampung Parung Serap Nomor 68, Tirtajaya, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (30/1/2018).

Baca juga : Modal Rp 7 Juta, Suzuki Thunder Jadi Bertampang Retro

Menurut Arie, jumlah penggemar roda dua di Indonesia sangat banyak. Jika diasumsikan bahwa peminat motor retro hanya sekitar 10 persennya (skala nasional) saja bengkel-bengkel modifikasi masih terus mendapatkan pesanan.

Misalnya seperti bengkel Street Art Custom miliknya. Sejumlah motor calon pelanggannya sudah ada yang mengantre dan masuk daftar tunggu atau waiting list untuk dimodifikasi.

"Jadi, kalau soal saingan sih enggak. Kalau banyak bengkel custom culture kami juga kecipratan (pesenan) kok, karena demandnya banyak," kata Arie.

Modifikasi custom culture retro bergaya cafe racer (Foto: dokumentasi Diens Bike).Fachri Fachrudin Modifikasi custom culture retro bergaya cafe racer (Foto: dokumentasi Diens Bike).
Ditemui terpisah, pemilik bengkel modifikasi Diens Bike, Anas Choirudin mengatakan bahwa, meskipun saat ini bengkel miliknya lebih sering disebut sebagai bengkel spesialis minor fighter, namun pelanggannya yang meminta dimodifikasi bergaya retro masih banyak. Sebelum bermain di kelas minor fighter pun, dirinya sudah banyak memodifikasi motor bergaya retro atau klasik. 

Bicara soal produksi, lanjut Anas, dalam satu bulan hanya bisa menyelesaikan sekitar 3 atau 4 motor modifikasi. Sementara calon pelanggan yang ingin memasukan tunggangannya ke bengkel miliknya cukup banyak.

Baca juga : Plus-Minus Motor Retro Pabrikan dengan Modifikasi

Tak jarang, dirinya pun memberikan opsi menunggu hingga beberapa waktu ke depan atau merekomendasikan bengkel lain.

"Ya kalau (pelanggan) maunya cepat, saya kasih tahu bengkel lain yang juga bagus ngerjainnya," kata Anas saat ditemui di bengkel miliknya di Jalan Kolonel Sugiono Nomor 24, Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.