KS-Sango Produksi Baja untuk Industri Otomotif

Kompas.com - 16/12/2017, 07:02 WIB
Jalur produksi Toyota All-New Kijang Innova di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indoneisa (TMMIN) di Karawang I, Senin (16/11/2015). Febri Ardani/KompasOtomotifJalur produksi Toyota All-New Kijang Innova di pabrik Toyota Motor Manufacturing Indoneisa (TMMIN) di Karawang I, Senin (16/11/2015).
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif - PT Krakatau Steel (Persero) dengan Sango Corporation, Jepang jalin kerjasama tentang Pengembangan Industri Baja untuk Sektor Otomotif. Mereka bakal memproduksi baja wire rod dengan nilai investasi sebesar 95 juta dolar AS atau Rp 1,2 triliun.

Ini merupakan upaya industri baja nasional, untuk terus memperdalam struktur manufakturnya. Harapannya mampu mendorong peningkatan penggunaan bahan baku lokal, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor serupa.

“Ini merupakan salah satu momentum sejarah mengenai pendalaman struktur industri nasional. Realisasi investasi akan menghasilkan produk wire rod, untuk pengembangan industri otomotif di Indonesia,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam siaran resminya, Jumat (15/12/2017).

Pabrik tersebut bakal memiliki kapasitas produksi mencapai 40.000 ton per tahun, dan menyerap tenaga kerja sebanyak 150 orang. Dari kerjasama ini, Airlangga menyebut pasokan bahan baku untuk sektor otomotif dan komponen di Indonesia akan semakin baik. Selain itu, kualitas kontrol dan hasilnya lebih terjamin, serta terjaga karena dilakukan di dalam negeri.

Baca juga : Kemenperin Genjot Pengembangan IKM Komponen Otomotif Lokal

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi (dari kiri) Sekjen Kemenperin Haris Munandar, serta Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan saat menyaksikan Penandatanganan MoU Pengembangan Industri Baja untuk Sektor Otomotif , Jumat (15/12/2017).Istimewa Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi (dari kiri) Sekjen Kemenperin Haris Munandar, serta Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan saat menyaksikan Penandatanganan MoU Pengembangan Industri Baja untuk Sektor Otomotif , Jumat (15/12/2017).

“Investasi ini juga akan menghemat devisa sebesar 24 juta dolar AS (Rp 325 miliar) per tahun, karena kita tidak akan lagi impor produk tersebut. Kalau sebelumnya dari impor, apabila ada kerusakan selama shipment itu produknya tidak bisa dikembalikan,” tutur Airlangga.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan menambahkan, dalam program pendalaman struktur industri, pemerintah tengah memfokuskan hilirisasi pada tiga kelompok industri pengolahan, yaitu sektor industri besi baja, petrokimia, dan kimia dasar.

Ketiga industri tersebut dinilai sebagai driving sector bagi manufaktur lainnya. “Kebutuhan baja yang meningkat setiap tahunnya harus diimbangi dengan tumbuhnya investasi baru di Indonesia,” ujar Putu.

Industri baja, sebagai salah satu komponen utama dari industri logam dasar, diperkirakan masih akan terus tumbuh dengan rata-rata enam persen per tahun sampai tahun 2025. Hal ini dipicu oleh tingginya permintaan bahan baku untuk sektor konstruksi yang tumbuh 8,5 persen, diikuti sektor otomotif yang tumbuh 9,5 persen.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X