Berkendara Harus Sadar Logika Agar Tidak Celaka - Kompas.com

Berkendara Harus Sadar Logika Agar Tidak Celaka

Kompas.com - 14/12/2017, 17:02 WIB
Keterangan Foto : Aparat Satlantas Polres Ngawi sementara melakukan olah tempat kejadian perkara tergulingnya Bus Sumber Slamet di jalan Raya Ngawi-Solo KM 35, Desa Mantingan, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Rabu (16/11/2016) sore. Kontributor Madiun, Muhlis Al Alawi Keterangan Foto : Aparat Satlantas Polres Ngawi sementara melakukan olah tempat kejadian perkara tergulingnya Bus Sumber Slamet di jalan Raya Ngawi-Solo KM 35, Desa Mantingan, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Rabu (16/11/2016) sore.

Jakarta, KompasOtomotif - Pada kenayataannya, sejumlah titik jalan raya tidak dilengkapi sarana pendukung keselamatan berkendara. Misalnya pembatas jalan untuk area jalan yang di tepiannya merupakan sungai atau area persawahan.

Membereskan persoalan tersebut bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika hanya berharap pada pemangku kebijakan.

Oleh karena itu, setiap kali melintasi jalan raya, khsusunya di jalan yang kurang dilengkapi sarana keselamatan, maka sedianya pengemudi harus memakai logika berkendara yang benar. Hal ini guna mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

Baca juga : Polisi Sebut Kecelakaan di Tol Cawang Murni karena Kelalaian

"Mengemudi aman terampil dan benar, dasarnya adalah logic driving. Ketika kondisi jalanan tidak logis maka kita harus mengubah kecepatan. Misalnya memasuki area jalanan tanpa pembatas jalan, maka tetap perlu waspada dengan menurunkan kecepatan," kata Pegiat safety driving sekaligus Training Director dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, saat dihubungi Rabu (13/12/2017).

Ilustrasi kecelakaan tabrakan mobil di Jakarta.Stanly/KompasOtomotif Ilustrasi kecelakaan tabrakan mobil di Jakarta.
Namun yang biasanya terjadi, pengemudi terlalu yakin dengan keahlian yang dimilikinya. Sehingga, saat berkendara kurang memperhatikan kondisi sekitarnya. Kendaraan yang dinaiki pun lantas dipacu sekencangnya. Padahal, kecelakaan juga bisa disebabkan oleh faktor di luar pengemudi.

Misalnya, kendaraan yang melintas secara tiba-tiba atau adanya orang yang menyebrang jalan. Faktor tersebut harusnya turut diperhitungkan pengemudi ketika melintasi jalan.

"Kadang logika kita kontra produktif. Kita tak pakai logika (menyadari) bahwa jalan raya milik bersama. Ada orang lain yang juga menggunakannnya dan macam-macam tipikalnya, ada yang tertib dan juga melanggar. Hal ini yang kadang-kadang kita enggak gunakan ke logika," kata Jusri.

Baca juga : Cara Surabaya Tekan Angka Kecelakaan Lalu Lintas


EditorAzwar Ferdian

Close Ads X