Kompas.com - 06/12/2017, 08:02 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif - Selama ini transportasi umum andalan masyarakat menengah ke bawah, angkutan kota (angkot), dikenal memiliki ciri khas formasi jok penumpang menyamping. Namun ciri khas tersebut dipastikan harus hilang dari angkot-angkot yang ada di Jakarta mulai Februari 2018. Sebab ke depannya formasi tempat duduk angkot di Jakarta akan menghadap ke depan.

Perubahan formasi tempat duduk merupakan bagian dari standar baru yang ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap angkot. Selain pemasangan sejumlah fitur, salah satunya alat pengatur suhu atau air conditioner (AC).

Diharuskannya formasi kursi angkot menghadap ke depan membuat angkot nantinya hanya boleh mengakut maksimal 8-10 orang, termasuk sopir dan satu penumpang di sebelahnya.

Baca juga : Selain AC, Ini yang Wajib Dipasang di Angkot Per Februari 2018

"Kalau baris menghadap ke depan, daya tampung menurun. Tapi kenyaman semakin terjaga. Jadi kita bicara sisi kenyamanan," kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko saat ditemui KompasOtomotif, Selasa (5/12/2017).

Angkot di Kampung Melayustanly Angkot di Kampung Melayu

Diwajibkannya angkot untuk mengubah formasi tempat duduk dan pemasangan AC merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2015. Peraturan yang diterbitkan pada Februari 2015 ini mengatur tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek.

Selain itu, Sigit menyatakan penerapan standar baru angkot merupakan bagian dari program One Karcis One Trip (OK-Otrip) dari pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang baru, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Dalam program ini, biaya ongkos naik transportasi umum di Jakarta hanya dikenakan sebesar Rp 5.000 sekali jalan. Biaya ini sudah termasuk ongkos naik transjakarta maupun angkot.

Baca juga : Kendala Bila Kursi Angkot Menghadap ke Depan

Menurut Sigit, Pemprov DKI akan memberikan subsidi atau public service obligation (PSO) bagi operator angkot. Sehingga tidak ada alasan bagi operator angkot mengeluhkan menurunnya kapasitas angkutan. Sebab operator angkot akan tetap mendapat pemasukan tanpa lagi memperhitungkan jumlah setoran dari sopir.

"Karena sudah diberi PSO, kenapa tidak kita tuntut level of service. Ini momentum. Jadi level of servicenya harus ditingkatkan," ujar Sigit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.