Kompas.com - 12/10/2017, 07:23 WIB
EditorAgung Kurniawan


Jakarta, KompasOtomotif –
Pelaku bisnis otomotif di Indonesia khawatir dengan kondisi pasar domestik yang tidak semestinya. Industri otomotif butuh insentif baru dari pemerintah demi mendongkrak kinerja ekspor, sekaligus mengukuhkan Indonesia sebagai basis produksi global.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengatakan, saat ini kemampuan produksi otomotif nasional (semua merek), sekitar 2,1-2,2 juta unit per tahun. Tetapi, jumlah kapasitas yang dimanfaatkan masih minim, hanya 1,1 juta unit diserap pasar domestik Indonesia, dan 200.000 unit untuk ekspor.

“Jadi overcapacity, kapasitas hanya 60 persen dari total. Industri ini butuh vitamin E, vitamin ekspor maksudnya. Perlu ada insentif baru dari pemerintah sehingga mampu meningkatkan daya saing produksi di Indonesia,” ucap Bob di Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Saat ini, Toyota tercatat sebagai merek mobil dengan ekspor kendaraan terbesar dari Indonesia. Jumlahnya mencakup 87 persen terhadap total ekspor mobil secara nasional, terdiri dari sembilan model, yakni Kijang Innova, Fortuner, Vios, Yaris, Avanza, Rush, Town/Lite Ace, Agya, dan Sienta.

TMMIN juga mengekspor kendaraan dalam bentuk terurai (CKD/Completely Knock Down), mesin bensin dan ethanol tipe TR-K dan R-NR, komponen kendaraan serta alat bantu produksi berupa jigs (alat bantu dalam proses pengelasan), dan dies (alat bantu dalam proses pengepresan).

Edward Otto Kanter, Vice President Director TMMIN, mengatakan, dukungan pemerintah menjadi salah satu faktor penting buat satu negara bisa menjadi basis ekspor. Penguatan logistik dan infrastruktur, misalnya membangun Pelabuhan Patimban, jalan tol baru, sudah menunjukan komitmen yang kuat menggenjot ekspor.

“Tetapi, kita juga butuh yang bisa berdampak langsung pada proses manufaktur. Insentifnya apa, terserah pemerintah saja,” ucap Edward.

Sanksi Tegas

Idealnya, jelas Bob, suatu model punya pasar domestik yang kuat, sekaligus kompetitif di pasar ekspor karena punya biaya produksi lebih baik ketimbang negara lain. Vios misalnya, saat ini jumlah ekspornya justru lebih besar ketimbang pasar domestik.

“Kondisi ini tidak sehat, bisa saja nanti direbut negara lain sebagai basis produksi yang pasar domestik sedannya lebih bagus. Mereka lebih kompetitif produksinya pasti,” kata Bob.

Insentif yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, baik untuk memasok domestik dan ekspor. Jadi, insentif jangan hanya diberikan untuk model-model yang dijual di Indonesia saja dan tidak ekspor.

“Pemerintah harus berani kasih sanksi tegas buat perusahaan yang melanggar kesepakatan. Kalau mau dapat insentif, satu model, iya dipasarkan di domestik, tetapi harus komitmen ekspor. Jangan ngomong saja, tapi kemudian ekspornya tidak,” ucap Bob.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.