BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Daihatsu

Botol Minuman Soda Tahun 1940-an Berlimpah di Morotai

Kompas.com - 20/07/2017, 10:33 WIB
Senjata-senjata tua di museum warga yang terletak Morotai, Maluku. Wilayah ini menjadi lokasi basis tentara Jepang kemudian Amerika Serikat pada tahun 1940-an sehingga kemudian menyisakan banyak peninggalan perang. Astra Daihatsu MotorSenjata-senjata tua di museum warga yang terletak Morotai, Maluku. Wilayah ini menjadi lokasi basis tentara Jepang kemudian Amerika Serikat pada tahun 1940-an sehingga kemudian menyisakan banyak peninggalan perang.
Penulis Dimas Wahyu
|
EditorSri Noviyanti

KOMPAS.com - Siapa menyangka bahwa bekal makanan dan minuman kita kemudian menjadi catatan sejarah tersendiri berpuluh-puluh tahun kemudian.

Hal ini misalnya saja ketika bekal makanan dan minuman itu menjadi bagian dari peninggalan perang.

Botol-botol minuman soda, vodka, dan bir milik tentara asing yang pernah membangun basis di Indonesia ini pula yang masih tersisa, khususnya di Pulau Morotai, Maluku Utara.

"Tentara-tentara ini meninggalkan logistiknya. Ada botol Coca-Cola, vodka, bir dan masih ada isinya. Ada juga alat-alat ketik sandi, meriam anti-serangan udara. Begitu juga sepeda yang dulu dipakai tentara-tentara Jepang," ujar pilot tim Terios 7-Wonders, Toni, saat mejelajahi museum-museum di Morotai, Rabu (19/7/2017).

Botol-botol minuman sisa bekal tentara Perang Dunia II di Morotai. Botol-botol ini adalah sisa logistik tentara Jepang dan Amerika yang pernah membangun basis di wilayah Maluku ini. Astra Daihatsu Motor Botol-botol minuman sisa bekal tentara Perang Dunia II di Morotai. Botol-botol ini adalah sisa logistik tentara Jepang dan Amerika yang pernah membangun basis di wilayah Maluku ini.

Eksplorasi museum-museum di Morotai memang menjadi menu perjalanan pada hari ke-6 bagi tim Terios 7-Wonders seusai mengendarai SUV-SUV mereka menyeberang dengan kapal feri dari Tobelo ke pulau ini.

Jalan di Morotai sendiri sudah seperti jalan di perkotaan. Medannya tidak seberat saat tim mengunjungi beberapa wilayah di Halmahera.

Karena itu, mesin Terios yang mengandalkan VVT-I bisa menyesuaikan bukaan katup sistem pembakarannya sehingga daya mesin dan pemakaian bahan bakar diatur secukupnya layaknya city cruising.  

Museum pribadi bikinan warga

Morotai pada era 1940-an memang menjadi basis bagi tentara Jepang dan Amerika Serikat.

Saat itu, Jepang telah merebut Filipina, tetapi Amerika kemudian coba merebutnya sehingga wilayah di Indonesia Timur ini dipilih sebagai lokasi start penyergapan terdekat, yang dari pihak Amerika dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur.

Baca: Menyelamatkan Sejarah Dunia di Morotai

Tidak heran, di balik Tanah Morotai masih banyak tersimpan benda-benda peninggalan. Masyarakat pun menggalinya, meski ada sebuah peraturan yang penting untuk diterapkan.

Mereka boleh menggali, asalkan melapor ke pihak berwajib jika menemukan benda-benda yang dicurigai sebagai amunisi, seperti peluru dan granat, karena dikhawatirkan masih aktif.

"Banyak temuan yang langsung didapat masyarakat. Akan tetapi, tidak semua bisa diambil. Kalau menemukan benda logam yang berat, jangan main gergaji," kata Muchlis Eso, pemerhati sejarah perang di Morotai, Rabu.

Benda-benda sisa perang banyak disimpan di Museum Perang Dunia II Morotai, yang menurut keterangan akan diintegrasikan dengan Museum Trikora dari TNI.

Museum Perang Dunia II di Morotai dikunjungi tim Terios 7-Wonders, Rabu (19/7/2017). Museum ini berisi peninggalan perang pada masa ketika Morotai menjadi basis bagi tentara Jepang kemudian Amerika Serikat ketika memperebutkan wilayah Filipina. Astra Daihatsu Motor Museum Perang Dunia II di Morotai dikunjungi tim Terios 7-Wonders, Rabu (19/7/2017). Museum ini berisi peninggalan perang pada masa ketika Morotai menjadi basis bagi tentara Jepang kemudian Amerika Serikat ketika memperebutkan wilayah Filipina.

Di luar itu, ada pula museum pribadi yang dibikin oleh warga. Muchlis Eso sendiri merupakan pemilik museum itu, setelah sejak usia SD sudah mengumpulkan benda-benda bersejarah ini.

"Sejak umur 10 tahun saya mulai mengumpulkan benda-benda sisa Perang Dunia II," ujarnya.

Ia tidak menggunakan metal detector atau alat modern lainnya, tetapi secara tradisional memanfaatkan tombak besi, linggis, serta mengandalkan kepekaannya dalam mendeteksi benda-benda yang berada di dalam tanah.

Museum pribadinya yang berada di rumahnya dan dihimpun oleh komunitas barang-barang peninggalan peran ini bisa dikunjungi wisatawan tanpa tarif tertentu. Pengunjung bisa membayar suka rela, entah Rp 10.000 atau Rp 20.000.

Penanganan barang-barang bersejarah di museum warga ini tersebut pun terbilang masih konvensional, meski di sisi lain sama artinya bahwa mereka turut melestarikan barang-barang tersebut.

Bahkan, mereka punya kegiatan bagi wisatawan untuk turut mencari barang-barang peninggalan (treasure hunt), yang masih banyak tersimpan di dalam Tanah Morotai ini, tepatnya di Hutan Amerika, tempat yang dipilih tentara untuk membuang logistik mereka.

Para peserta dari tim Terios 7-Wonders lantas coba ikut dalam perburuan tersebut. Hingga sore, mereka menemukan sejumlah benda, seperti koin lama dan botol minuman.

Eksplorasi museum dan benda bersejarah oleh tim Terios 7-Wonders sendiri masih akan berlangsung pada Kamis (20/7/2017) besok.

Tim Terios 7-Wonders menggunakan tiga Terios standar mereka mengelilingi Maluku pada 14-22 Juli 2017.  Astra Daihatsu Motor Tim Terios 7-Wonders menggunakan tiga Terios standar mereka mengelilingi Maluku pada 14-22 Juli 2017.

Baca tentang

Sumber kompas.com
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya