Aturan Baru, Pemilik Bus Bisa Jadi Tersangka

Kompas.com - 19/06/2017, 07:41 WIB
Kecelakaan di Jalur Puncak, tepatnya di Desa Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (30/4/2017). Dilaporkan, delapan orang tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka. DokumentasiKecelakaan di Jalur Puncak, tepatnya di Desa Ciloto, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (30/4/2017). Dilaporkan, delapan orang tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka.
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Kecelakaan bus maut yang terjadi April lalu, mulai membuka mata para pemangku kepentingan khususnya Kementerian Perhubungan, untuk secara ketat memantau angkutan umum yang beredar.

Selain rajin melakukan ramp check bus-bus yang beredar, aturan baru kemungkinan akan diaplikasikan.  Eddi, Direktur Keselamatan Transportasi Ditjen Hubdat Kementerian Perhubungan mengatakan, akan menjerat pemilik bus, selain dari supirnya.

“Karena selama ini hanya supirnya saja yang kita tindak, tapi ke depan akan ada perubahan undang-undang dan sebagainya. Sekarang kan bunyi pasal-pasalnya ‘Barang siapa yang mengemudikan kendaraaan’ ya itu berarti supir, tapi kalau nanti si pemilk kendaraaan yang mengoperasikan kendaraaan dan busnya yang bisa dipidana,” ujar Eddie, Sabtu (17/6/2017).

Eddi menambakan, terkait dengan kecelakaan yang terjadi di Jalur Puncak, Ciloto April lalu, Eddi menemukan kalau tanda tangannya dipalsukan agar mobil bisa beroperasi. “Sampai sekarang masih di kepolisian, dan sedang diproses, semoga pemiliknya jadi tersangka, karena agar tidak terulang lagi,” ujar Eddi.

Soal target, Eddi menuturkan, kalau Indonesia berharap pada 2020 nanti jumlah kecelakaan yang terjadi di jalan akan berkurang sampai 80 persen. Sementara untuk 2017 ini, harapannya sudah bisa turun 50 persen.

“Banyak hal yang sudah kami penuhi, alhamdulillah tahun kemaren angkutan umum yang resmi tidak ada yang mengalami tragedi. Kebanyakan kecelakaan yang terjadi karena masa uji angkutannya (bus) sudah terlampaui,” kata Eddi.

“Mudah-mudahan ke depannya, kami akan lebih ketat lagi memeriksa kendaraan di jalan, dan semoga target penurunan angka kecelakaan tercapai sampai 80 persen di 2020,” ucap Eddi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X