BBM Euro IV Pertamina Siap, Bagaimana Masyarakat?

Kompas.com - 05/04/2017, 07:22 WIB
Sejumlah pengendara mengisi bahan bakar di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (9/1/2017). PT Pertamina (Persero) langsung menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 5 Januari 2017. Revisi harga berlaku untuk jenis BBM non-subsidi dengan angka kenaikan sebesar Rp 300. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGSejumlah pengendara mengisi bahan bakar di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (9/1/2017). PT Pertamina (Persero) langsung menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 5 Januari 2017. Revisi harga berlaku untuk jenis BBM non-subsidi dengan angka kenaikan sebesar Rp 300.
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Ketika Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Euro IV ditandatangani, tentu berbagai pihak sudah sepakat dan siap, termasuk Pertamina, dalam menyediakan bahan bakar.

Saat dikonfirmasi, pihak Pertamina justru mempertanyakan kesiapan masyarakat, apakah siap untuk beralih ke sana? Pasalnya, dengan naiknya kualitas bahan bakar yang sesuai spesifikasi, maka harganya juga akan semakin mahal.

“Jadi kuncinya yaitu kesiapan konsumen. Namun masih belum tahu akan ada kenaikan berapa, kami belum mengetahui produksinya. Pastinya ketika ada kualitas, maka harga juga akan menyesuaikan,” ujar Afandi, Vice President Retail Fuel Marketing Pertamina kepada KompasOtomotif,  Selasa (4/4/2017).

Memang, seperti yang terjadi dilapangan, mobil yang masuk dalam program Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2/LCGC), masih kerap ditemukan mengisi bahan bakar bersubsidi, seperti Premium. Padahal di Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33 tahun 2013, minimal harus menenggak Pertamax.

Namun, bukan lantas pesimistis, kasus ini justru jadi bahan evaluasi untuk memperbaiki aplikasi Permen Euro IV  di lapangan nantinya. Malah akan lebih baik, jika Pertamina bisa menyediakan bahan bakar berkualitas dengan harga terjangkau, walaupun ini nampak utopis, sebelum perusahaan minyak negara ini memiliki fasilitas pengolahan sendiri dan tidak impor.

Meski begitu, Afandi juga menyadari, kalau saat ini sudah banyak masyarakat yang sadar akan kualitas. Ini terbukti dari mulai menurunnya kontribusi Premium, yang sebelumnya di angka 88 persen turun menjadi 44 persen.

“Namun yang jelas sekarang, masyarakat yang telah paham kualitas sudah ada. Di mana Pertalite saja saat ini di angka 38 persen atau menyedot pemilik kendaraan yang sebelumnya menggunakan Premium. Sementara yang pindah ke Pertamax hanya 14 persen,” kata Afandi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X