Toyota Belum Minat Bikin “Hybrid” Murah

Kompas.com - 10/03/2017, 17:01 WIB
Mobil konsep yang hadir di GIIAS 2016 Otomania/Setyo AdiMobil konsep yang hadir di GIIAS 2016
|
EditorAgung Kurniawan

Demak, KompasOtomotif – Sebagai pemain otomotif terbesar di Indonesia, Toyota masih belum terendus mau ikut meramaikan segmen hybrid murah untuk konsumen dalam negeri. Meski Suzuki, melalui Ertiga Diesel berteknologi hibrida ringan sudah muncul ke pasar, tidak cukup untuk menjadi perangsang Toyota.

Saat ditanyakan mengenai hal tersebut, Vice President Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Henry Tanoto mengaku masih belum ingin membahas mengenai produk kompetitornya tersebut. Padahal dengan kemampuan yang dimiliki, bukan tidak mungkin Toyota bisa memulainya, apalagi sebagai pemimpin pasar.

“Saya tidak mengomentari produk merek lain. Pastinya kami selalu mengembangkan teknologi, agar bisa memberi manfaat untuk konsumen dan lingkungan, dan secara cost juga diterima. Semua teknologi kan dibuat agar lebih kompetitif dan efisen sehingga bisa memberikan kepuasan,” ujar Henry saat ditanyakan mengenai hybrid murah Suzuki Ertiga, Rabu (8/3/2017).

Baca juga : Mengapa Ada Kata "Hybrid" di Ertiga Diesel?

Henry mengakui, kalau teknologi kendaraan ramah lingkungan yang paling visible untuk direalisasikan adalah hybrid. Karena tidak terlalu bergantung dengan infrastruktur, seperti misalnya stasiun pengecasan atau untuk mengisi hidrogen.

“Kalau yang paling mudah itu hybrid, tidak butuh infrastruktur, jadi kan dia sudah bisa langsung. Itu yang cukup potensial yang secara cepat terealisasi di Indonesia, dibanding teknologi lain yang butuh infrasuktur khusus dan waktu,” ujar Henry.

Dua Syarat

Tekait dengan kapan Toyota mulai memproduksi hybrid, Henry menjawab, masih melihat pasarnya. Untuk merangsang itu, perlu juga peran pemerintah untuk memberi dukungan, seperti insentif maupun infrastruktur.

“Kami butuh support juga dari pemerintah untuk membuat hybrid, karena cukup mahal, dan membuat volumenya belum cukup banyak. Kalau di luar negeri, volume banyak karena ada perlakukan khusus, jadi itu yang bikin bisa lebih diterima,” ujar Henry.

“Harapan kami kalau hal tersebut diberlakukan juga di Indonesia (insentif), saya percaya diri, di mana lama kelamaan volumenya akan naik, dan kalau itu terjadi, tentu bisa produksi juga secara lokal,” ucap Henry.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X