Klakson "Telolet" Sudah Eksis sejak 5 Tahun Lalu

Kompas.com - 21/12/2016, 16:20 WIB
Anak-anak di Ungaran, Kabupaten Semarang tengah menunggu bus malam yang lewat di Jl Diponegoro Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (11/5/2016) sore. Mereka menantikan bus yang membunyikan klakson telolet untuk direkam dan diunggah ke media sosial. Kompas.com/ Syahrul MunirAnak-anak di Ungaran, Kabupaten Semarang tengah menunggu bus malam yang lewat di Jl Diponegoro Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (11/5/2016) sore. Mereka menantikan bus yang membunyikan klakson telolet untuk direkam dan diunggah ke media sosial.
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif — Klakson telolet yang menjadi sangat viral belakangan ini ternyata sudah dimulai sejak lama. Menurut Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia Kurnia Lesani Adnan, suara klakson pada bus dengan aneka nada sempat ramai pada lima tahun lalu.

Jika dirunut lagi ke belakang, sebenarnya modifikasi klakson jadi bersuara unik telah dimulai pada era 1990-an. Pelopornya, bus-bus yang melintas di jalur pantai utara.

“Dulu itu pakai angin, kalau sempat ingat ada klakson ukuran besar di bus itu suaranya seperti kapal. Sekarang ada modulnya, pakai tombol yang suaranya beda-beda. Ini kan kreativitas pengemudi saja yang disambut masyarakat,” kata Kurnia saat dihubungi KompasOtomotif, Rabu (21/12/2016).

Mulanya dari keranjingan anak-anak kecil di Pulau Jawa yang berburu bus sambil membunyikan klakson telolet. Mereka merekam video bus itu kemudian mengunggah ke media sosial sejak pertengahan tahun ini.

Sempat tenggelam, lantas klakson telolet naik lagi ke permukaan mulai pekan ini. Kata “Om Telolet Om” sangat ramai digunakan di internet, bahkan sampai membahana ke luar negeri. Aktivitas meminta sopir bus membunyikan klakson telolet jadi dilakukan banyak orang, bahkan sudah ada aplikasi ponsel khusus yang menghasilkan berbagai nada klakson telolet.

Menurut Kurnia, meminta klakson telolet di pinggir jalan bisa jadi aktivitas berbahaya, misalnya berada terlalu dekat dengan jalan sehingga menimbulkan risiko kecelakaan. Terlebih lagi karena sedang viral, jumlah anggota masyarakat yang melakukannya semakin banyak.

Dia telah meminta kepada perusahaan otobus untuk memberi tahu kepada pengemudinya agar mengurangi pemakaian klakson telolet.

"Tapi, ya di lapangan kan tidak bisa diatur. Kami sudah bilang agar pengemudi mulai mengurangi, tidak usah dibunyikan terus-terusan," kata Kurnia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X