Varian Diesel Mazda, Tunggu Euro IV "Ketuk Palu"

Kompas.com - 21/03/2016, 15:23 WIB
Roadshow B20 kembali diadakan. Sosialisasi pemanfaatan B20 atau bahan bakar biodiesel 20% tersebut kini memasuki hari ke-9 dan digelar di Bandung di Kantor Pertamina Bandung. KOMPAS.com/Reni SusantiRoadshow B20 kembali diadakan. Sosialisasi pemanfaatan B20 atau bahan bakar biodiesel 20% tersebut kini memasuki hari ke-9 dan digelar di Bandung di Kantor Pertamina Bandung.
|
EditorAgung Kurniawan

Bandung, KompasOtomotif – Hasil riset tentang kualitas dan distribusi tidak merata bahan bakar diesel di Indonesia selalu jadi masalah buat teknologi tinggi para produsen. Salah satu yang mengatakan belum mau menjual mobil bermesin diesel di dalam negeri yaitu Mazda Motor Indonesia (MMI).

Selain teknologi SkyActiv-G untuk mesin bensin yang sudah digunakan pada CX-5, 2, 6, dan Biante di Tanah Air, Mazda juga punya produk global laun dengan mesin diesel berteknologi SkyActiv-D. Namun anggapan bila mobil diesel nantinya hanya menyusahkan konsumen karena kesulitan mencari bahan bakar, maka diputuskan tidak dijual.

Worldcarfans Mesin Mazda SKYACTIV-D 1,5 liter
SkyActiv-D hanya mampu bekerja normal bila meneguk minimal Pertamina Dex atau bahan bakar lain dengan kualitas sama. Bahan bakar jenis ini dianggap hanya tersedia di Jakarta dan sekitarnya, sulit ditemukan di daerah.

Kendati telah mengambil posisi sejak lama, bukan tidak mungkin MMI bakal berubah. Pasalnya pemerintah sudah melempar wacana ingin merilis regulasi Euro IV sebagai pengganti kebijakan Euro II yang kini masih berlaku.

Senior Marketing Manager MMI Astrid Ariani Wijana, menanggapi keinginan beralih ke Euro IV sebagai sinyal bagus. Namun menggunakan nada skeptis ia mengatakan menunggu keputusan itu disetujui dan berlaku.

“Buka dulu regulasinya baru kita tanggapi nanti. Siapa yang bisa jamin regulasi itu ketuk palu kalau infrastrukturnya engga jelas. Intinya, begitu Indonesia ketuk palu, ok Euro IV, semua provinsi sudah punya bahan bakarnya diesel yang komptibel dengan Euro IV, kami akan ikuti tapi kalau tidak ada mana mau,” ujar Astrid di Bandung, Sabtu (21/3/2016).

Regulator standar emisi bahan bakar di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), telah membuat draft Euro IV. Rencananya, tahun ini aturan baru itu siap ditanda tangani agar bisa berlaku pada 2018.

Lompatan besar Indonesia ini bukannya tanpa kendala, pasalnya sektor lain seperti Pertamina sebagai penyedia bahan bakar di dalam negeri dinilai belum siap. Selain itu, bila sudah berlaku, produsen juga mesti mempelajari seluk beluknya termasuk buat mobil lama dan baru.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X