Siasat Cerdik Desain Kabin Daihatsu Copen

Kompas.com - 13/03/2016, 07:16 WIB
Suasana mengemudi Daihatsu Copen. Febri Ardani/KompasOtomotifSuasana mengemudi Daihatsu Copen.
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Bila Anda pikir Daihatsu adalah merek identik mobil murah, boleh jadi itu tidak salah karena memang model-model yang ditawarkan harganya relatif terjangkau, setidaknya di bawah Toyota. Tapi yang jangan sampai Anda hakimi, kalau Daihatsu tidak bisa bikin mobil mewah.

Dulu mobil paling mahal Daihatsu di Indonesia yaitu SUV Terios yang dijual sekitar Rp 200-an juta. Tapi sejak Mei 2015, Copen meluncur lantas mengambil alih posisinya. Model 2-pintu dengan atap lipat itu dilego di atas Rp 400 juta.

Febri Ardani/KompasOtomotif Daihatsu Copen.
Kei car impor Jepang ini datang bukan untuk menambah volume penjualan, tapi sebagai ikon yang ditunjuk ketika seseorang meragukan kemampuan Daihatsu. Hampir sebagian besar bagian Copen tidak dimiliki model Daihatsu lain di dalam negeri, menjadikannya sosok protagonis.

Menariknya, justru mobil paling kecil yang termahal. Panjang Copen hanya 3,395 m, lebarnya  1,47 m, dan tinggi 1,2 m. Bodi dengan panel yang sebenarnya bisa gonta-ganti itu duduk di atas wheelbase sepanjang 2,45 m.

Wajah “kartun” Copen yang sanggup bikin kepala menoleh sudah pernah diulas, kini yang lebih menarik cerita rasanya berada di kabin. Apa jadinya masuk ke ruangan yang lebih kecil dari Ayla?

Cerdik

Sempit? Sudah pasti. Namun desain ruang penumpang Copen membuktikan bagaimana para insinyur Daihatsu berpikir cerdik menyiasati rancang bangun agar semua fungsi mobil tetap tersedia tanpa menanggalkan nilai estetika.

Febri Ardani/KompasOtomotif Detail interior Daihatsu Copen.
Pola pikir seperti itu yang membuat berbagai hal tidak pada lokasi yang seharusnya seperti mobil biasa. Misalnya, pintu tidak punya tempat botol minuman, tombol pembuka kaca di konsol tengah dekat tuas rem parkir, tombol lampu hazard tidak di tengah dasbor, dan ventilasi AC di tengah cuma satu.

Bahkan Copen tidak spesifik menyediakan tempat koin. Masalahnya di Jepang tidak ada “polisi gope” di setiap persimpangan jalan seperti di Ibu Kota. Khusus untuk tempat penyimpanan, selain punya laci dasbor dan konsol tengah untuk tempat botol minuman, Copen juga memiliki kantung jaring buat menaruh barang yang terletak di dinding belakang.

Febri Ardani/KompasOtomotif Tuas pembuka kap mesin yang berada di laci dasbor (kiri) dan pembuka bagasi serta tutup tangki bahan bakar di konsol tengah.
Kalau pemilik Copen tidak baca buku petunjuk bisa jadi sukar menemukan posisi tombol/tuas membuka kap mesin, bagasi, dan tutup tangki bahan bakar sebab lokasinya “rahasia”. Tuas pembuka kap mesin letaknya di dalam laci dasbor, sedangkan untuk membuka bagasi dan tutup tangki berada di ruang penyimpanan tengah di antara pengemudi dan penumpang.

Febri Ardani/KompasOtomotif Panel instrument Daihatsu Copen, masih ada tulisan Jepangnya.
Merancang desain untuk melayani cuma dua penumpang Copen sepertinya lebih mudah tapi ternyata tidak juga karena kabin sangat sempit bahkan untuk saya dengan tinggi 168 cm. Posisi kepala hampir mentok plafon sedangkan ruang kaki masih tergolong luas tapi tidak banyak gerakan yang bisa dilakukan.

Febri Ardani/KompasOtomotif Daihatsu Copen.
Atap memang bisa dilipat elektronik lantas dapat ruang terbuka, tapi cara ini sepertinya cuma dilakukan buat senang-senang atau situasional bukan untuk mengemudi serius. Lagipula siapa yang tahan lama-lama kena panas, berisik, atau menghirup asap knalpot angkutan umum di jalan.

Untungnya Copen punya fitur pemanja penumpang, jok sudah punya penghangat dan AC dilengkapi “auto” jadi cepat dingin ketika baru masuk mobil.

Febri Ardani/KompasOtomotif Detail interior Daihatsu Copen.
Headunit tidak termasuk dalam unit impor jadi Astra Daihatasu Motor mengisinya dengan Pioneer Mixtrax seri AVH-XL5850BT 7 inci yang dijual Rp 4 juta – Rp 5 juta di Indonesia. Fitur utamanya, mirror link dengan ponsel, Bluetooth, DVD, USB, Aux-in, dan terkoneksi dengan tombol audio dan mikrofon di kemudi. Sebagai pendukung terdapat speaker di pintu dan tweeter di pilar A.

Kesimpulan

Copen dirancang atas regulasi kei car yang mengatur tentang dimensi, kapasitas mesin, dan kemampuan angkut agar mendapat keuntungan pajak dari Pemerintah Jepang. Jadi, selain karena skema impor, wajar bila harganya melambung di Tanah Air sebab tidak ada kompensasi regulasi. Copen dijual Rp 416,55 juta untuk manual dan Rp 431,55 juta buat CVT.

Febri Ardani/KompasOtomotif "Glass wind deflector" pada Copen untuk mengurangi turbulensi dan berisik di kabin saat atap lipat dibuka.
Kabin Copen dirancang seminimalis mungkin, jadi konsep itu juga perlu diikuti siapa saja yang ingin berada di dalamnya. Ruang penumpang sempit membuat Copen tidak cocok sebagai tempat menghabiskan banyak waktu karena aktivitas terbatas.

Tapi sepertinya sempit bukan jadi alasan kuat untuk tidak meminang Copen. Ada lebih banyak alasan memiliki keunikan salah satu roadster terkecil di Indonesia ini.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X