Bikin Polisi Tidur, Ada Aturannya

Kompas.com - 06/03/2016, 10:05 WIB
Contoh alat pembatas kecepatan alias polisi tidur yang dibuat tidak sesuai regulasi. Febri Ardani/KompasOtomotifContoh alat pembatas kecepatan alias polisi tidur yang dibuat tidak sesuai regulasi.
|
EditorAzwar Ferdian

Jakarta, KompasOtomotif – Buat pengendara mungkin sudah lumrah menemukan polisi tidur atau alat pembatas kecepatan di jalanan. Tapi masalahnya tidak semua yang dijumpai dibuat sesuai aturan, bahkan kadang malah bikin kecelakaan padahal seharusnya fungsi pembatas kecepatan sebagai peringatan bukan mematikan.

Pembuatan polisi tidur tidak bisa asal-asalan. Aturannya bisa ditemukan pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM.3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan.

Pada Pasal 3 Ayat 1 menjelaskan alat pembatas kecepatan merupakan kelengkapan tambahan jalan yang berfungsi membuat pengendara mengurangi kecepatan. Pada Pasal 2 menyebut kelengkapan tambahan itu dapat berupa peninggian sebagian badan jalan yang melintang terhadap sumbu jalan dengan lebar, tinggi dan kelandaian tertentu.

Lebih lanjut pada Pasal 4 menerangkan pembatas kecepatan ditempatkan pada jalan di lingkungan pemukiman, jalan lokal kelas IIIC, dan pada jalan yang sedang dilakukan pekerjaan konstruksi.

Ciri pembatas kecepatan yang sesuai aturan yakni memiliki tanda garis serong berupa cat warna putih agar bisa dilihat pengendara seperti tertuang pada Pasal 5. Lebih detail lagi diatur pada pasal 6, yakni bentuk pembatas kecepatan menyerupai trapesium setinggi maksimal 12 cm, sisi miringnya punya kelandaian yang sama maksimum 15 persen, dan lebar datar bagian atas minimum 15 cm.

Bahan pembuat pembatas kecepatan menggunakan sama seperti badan jalan. Selain itu bisa menggunakan karet. Pemakaian bahan harus memerhatikan keselamatan pemakaian jalan.

Pita penggaduh

Selain pembatas kecepatan, di jalan juga sering dijumpai pita penggaduh (speed trap). Bentuknya berbeda, aturan desainnya ditemukan pada Pasal 32. Ayat 1 menjelaskan pita penggaduh dapat berupa marka jalan atau bahan lain yang dipasang melintang jalur lalu lintas dengan ketebalan 4 cm.

Bagian pita yang menonjol di jalan maksimum 4 cm seperti tertulis pada pasal 34 Ayat 1. Jumlah pita dalam satu kelompok dan jarak pengulangannya disesuaikan dengan hasil manajemen dan rekayasa lalu lintas seperti dituang pada Ayat 2.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X