Indonesia Siap Tinggalkan Euro II?

Kompas.com - 25/08/2015, 16:26 WIB
Petugas melayani pembeli bahan bakar minyak jenis baru, Pertalite, di SPBU Abdul Muis, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2015). PT Pertamina (Persero) hari ini mulai menjual Pertalite dengan oktan 90 kepada konsumen dengan harga Rp 8.400 per liter. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOPetugas melayani pembeli bahan bakar minyak jenis baru, Pertalite, di SPBU Abdul Muis, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2015). PT Pertamina (Persero) hari ini mulai menjual Pertalite dengan oktan 90 kepada konsumen dengan harga Rp 8.400 per liter.
|
EditorAzwar Ferdian

Tangerang Selatan, KompasOtomotif – Sebelum Indonesia beranjak dari EURO II, ada banyak hal yang perlu persiapkan. Bukan hanya dari kacamata industri otomotif tapi juga dari sudut pandang sosial. Siapkah Indonesia masuk ke standar EURO lebih tinggi?

Membatasi emisi kendaraan bermotor bertujuan mengurangi polusi udara yang berefek pada lingkungan. Para pabrikan global telah berlomba-lomba membuat mesin pembakaran internal agar bisa memenuhi spesifikasi Euro yang terus mengetat.

Indonesia sudah jauh tertinggal dibanding negara otomotif di Asia Tenggara, hanya Indonesia yang masih menggunakan EURO II. Thailand dan Malaysia sudah EURO IV, sedangkan Singapura EURO V.

Ketua I Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) Jongkie D Sugiarto mengatakan, Indonesia bisa saja loncat ke Euro IV atau bahkan Euro V. Namun dijelaskan yang berperan penting dalam perubahan ini adalah Pemerintah.

“Kita sih senang dengan Euro IV, berarti biaya pengembangan tidak usah bayar lagi kita, tinggal tarik aja mobilnya ke sini semua. Merek apapun tipe apapun,” ucap Jongkie.

Sebelumnya ia mengatakan industri otomotif merugi bila Indonesia terus EURO II sebab biaya pengembangan agar kendaraan bisa disesuaikan dengan itu ditanggung industri lokal.

Transisi dari Euro II ke Euro IV tidak butuh waktu lama, kata Jongkie. Cukup setahun, kebanyakan mobil yang dijual di Indonesia sudah mengusung Euro IV. Jongkie juga menambahkan tidak ada yang untung bila Indonesia masih menggunakan standar emisi lama, masalah utamanya cuma penyediaan bahan bakar berkualitas yang merata ke seluruh Indonesia.

“Betul bahwa tadi harga bahan bakarnya akan lebih mahal, operasionalnya juga, saya mengerti itu. Tapi kita lihat, income per kapita kita naik berapa dibanding tahun lalu? Sekarang sudah 4.000 dollar AS lebih. Jadi harusnya masyarakat yang beli mobil sanggup beli bensinnya. Sebetulnya juga kan lebih irit pakai bensin yang tepat, dibanding dengan oktan rendah. Ini masalah kesiapan dan edukasi sosial,” ujar Jongkie.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X