Soal Konvoi Moge di Yogya, Polisi Punya Hak Abaikan Rambu

Kompas.com - 16/08/2015, 15:38 WIB
Foto dari warga Yogya:
Erlanto Wijoyono saat menghadang konvoi Harley di Perempatan Condongcatur Depok Sleman KOMPAS.com| Wijaya kusumaFoto dari warga Yogya: Erlanto Wijoyono saat menghadang konvoi Harley di Perempatan Condongcatur Depok Sleman
|
EditorAzwar Ferdian


Jakarta, KompasOtomotif
 — Peristiwa soal konvoi moge di Yogyakarta yang menerobos lampu merah dan distop oleh pesepeda yang belakangan diketahui bernama Elanto Wijoyono menuai kontroversi. Namun, dari sudut pandang pengawalan, hal tersebut sudah diatur dalam undang-undang. Kepolisian sudah melakukan tugasnya saat mengawal konvoi.

Kepala Detasemen Pengawalan (Kadenwal) Patroli Jalan Raya (PJR) Korlantas Polri Kombes Pol Ahsanur Rozimi mengatakan kepada KompasOtomotif, Minggu (16/8/2015), bahwa mekanisme di lapangan sudah sesuai undang-undang atau bisa berbeda dengan menyesuaikan kebutuhan.

”Saya tidak tahu persisnya (pengawalan konvoi moge di Yogya). Namun, polisi punya kewenangan yang disebut diskresi. Kalau misalnya lampu merah diikuti, lalu konvoi terlalu panjang, dan di sisi lain padat, polisi bisa mempercepat yang ramai, atau mendahulukan konvoi. Ini demi kelancaran arus lalu lintas,” ujar Rozimi.

Diskresi

Perlu diketahui bahwa Polri mempunyai diskresi sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri yang berbunyi, ”Untuk kepentingan umum, pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri.”

Namun, untuk melakukannya, pada ayat (2) dijelaskan bahwa diskresi hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Artinya, jika dirasa perlu oleh polisi, maka lampu merah pun bisa tak berlaku.

”Semua polisi bisa melakukan diskresi, termasuk bintara sekalipun. Jika memang rombongan terlalu ramai, dan jika berhenti nanti akan menimbulkan masalah macet dan sebagainya, petugas bisa mengatur langsung di lapangan, atau PJR minta prioritas,” ujar Rozimi.

Rozimi mengatakan, konvoi dengan jumlah kendaraan yang sangat banyak memang harus diarahkan dan dikawal. ”Saya yakin kalau tidak diurus polisi, lalu mereka membunyikan sirene sendiri, pakai lampu isyarat sendiri, saya yakin malah bertambah kacau. Yang ada nanti main serobot sana-sini, bisa bertentangan, dan kemungkinan terburuk adalah adu fisik dengan masyarakat,” imbuh Rozimi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.