Jajal Mobil Pengonsumsi Gas Alam

Kompas.com - 16/01/2015, 12:00 WIB
Indikator volume BBG pada tangki bisa dipantau langsung dari konsol di dasbor. Agung KurniawanIndikator volume BBG pada tangki bisa dipantau langsung dari konsol di dasbor.
|
EditorAris F. Harvenda

Selama berada di balik kemudi, rasa mengemudikan mobil berbahan bakar gas nyaris sama dengan bensin. Melewati kepadatan lalu lintas di dapan Museum Fatahilah, karakter stop and go dihadapi tanpa masalah. Dengan tuas transmisi bertahan di posisi "D", torsi awal dari posisi mobil berhenti terasa penuh.

Masuk ke Jalan Raya Mangga Dua, kondisi lalu lintas mulai lenggang, pada waktu ini juga, kami mencoba "kick down" untuk merasakan sensasi akselerasinya. Ternyata, memang sedikit agak "lemot" ketimbang jika mengonsumsi bensin. Tapi, secara garis besar kenyamanan masin tetap terjaga.

Setibanya di lokasi, KompasOtomotif coba mengonfirmasikan hal ini pada pihak PGN yang didampingi Budi Prasetyo Susilo, Staf Ahli Gaikindo. Ternyata, perasaan "lemot" yang diperoleh ketika "kick down", menurut pihak PGN terjadi karena setiap pemasangan alat konversi butuh penyesuaian ulang (tunning) terhadap asupan gas yang dibutuhkan ruang bakar.

"Mungkin memang converter kit-nya belum di-tunning. Kalau saya rasakan mobil gas ketika di Jepang. Sensasinya sama sekali tidak ada bedanya dengan mobil bensin, karena memang butuh tunning yang pas," jelas Budi. Penjelasan ini cukup masuk akal, karena meskipun CNG diklaim lebih bersih dan punya oktan setara dengan 120, tetap saja karakter jenis bahan bakar yang semua cair menjadi gas, butuh penyesuaian lagi.

Kesimpulan

Meski pengujian mobil gas ini singkat, bisa disimpulkan kalau penggunaan mobil gas sama nyamannya dengan mobil konvensional. Keamanan juga bisa terjaga karena berat massa CNG lebih ringan ketimbang udara, sehingga jika terjadi kebocoran langsung menguap ke udara. Jadi, selama konsumen tidak melakukan modifikasi sendiri dan merawat secara berkala, tidak perlu khawatir meledak.

Terakhir, mobil gas juga menawarkan biaya pengeluaran harian jadi lebih ringan. Misalnya, dengan asumsi Terios rata-rata konsumsi BBMnya, 11 kpl, maka dengan 8 LSP bisa menempuh jarak 88 km dengan biaya 50 persen lebih murah ketimbang bensin. Acuannya, saat ini Premium dijual dengan harga Rp 7.500 per liter, sedangkan CNG dipasarkan dengan Rp 3.100 per LSP.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X