Suparno Djasmin, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor [Habis]

Dua Modal Utama Wapresdir Toyota Astra Motor Meraih Sukses

Kompas.com - 30/12/2014, 10:00 WIB
|
EditorAris F. Harvenda

Ternyata, karir Abong gemilang, sampai akhirnya menduduki jabatan Direktur Pemasaran di PT Astra CMG Life, mulai 2001. Terjun di dunia asuransi yang baru bagi Abong justru menciptakan tantangan tersendiri dalam karirnya. Akhirnya dengan ketekunannya belajar Abong membuktikan diri dengan prestasinya.

"Kalau sudah nyemplung, jangan setengah-setengah. Kalau memang mau jadi, ya ahlinya sekalian saja. Dulu, ada lembaga level eksekutif perusahaan bagi perusahaan asuransi di dunia, namanya Life Insurance Management and Research Association (LIMRA), berpusat di Connecticut, AS. Lembaga ini melakukan riset, pelatihan, manajemen, bidang asuransi, level menajer dan eksekutif di dunia. Saya masuk dalam daftar fellowship mereka dan yang pertama diakui dari Indonesia," bangga Abong.

Setelah besar di Asuransi, Abong kemudian meneruskan karirnya di anak perusahaan Astra lainnya. Mulai menjadi Chief Executive Officer, Isuzu Sales Operation (April 2001-Maret 2007), Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (April 2007-Maret 2008), Daihatsu Sales Operation sebagai CEO (April 2007-Juni 2013), dan akhirnya diangkat sebagai direktur induk perusahaan PT Astra International Tbk. Kini, Abong juga menjabat sebagai CEO Auto2000 dan Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM).

Etos kerja

Abong mengaku selalu bekerja keras selama menjadi profesional. Dengan model kerja keras, akan sulit diimbangi oleh kinerja penting lainnya. "Kalau pinter saja tapi tidak kerja keras percuma, tetapi kalau tidak pinter tapi kerja keras, lama-lama jadi pinter juga," imbuh Abong.

Bekal kedua yang ditekankan Abong dalam menjalankan karirnya, adalah keinginan untuk selalu belajar. Apapun pengalaman, bidang, divisi baru yang dihadapi, harus mau belajar. Selain itu, buktikan dan berikan hasil terbaik yang bisa diraih. Jika tidak berhasil, setidaknya tidak menyesal karena sudah mencoba memberikan yang terbaik.

"Kalau anak zaman sekarang maunya instan. Sudah bekerja sebentar, gelisah karena belum naik jabatan. Saya bilang nanti dulu, jangan maunya cepat-cepat saja," tukas Abong.

Menurut Abong puncak karir seseorang diperoleh melalui proses yang panjang, bukan hasil kerja semalam dan butuh kerja keras untuk mencapainya. "Mudah-mudahan pengalaman ini bisa dibagi dan ada manfaatnya bagi semua orang, jangan sampai menimbulkan kesan hiperbola," tutup Abong.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.