Susahnya Mencari Insinyur untuk Industri Otomotif di Indonesia

Kompas.com - 20/11/2014, 07:40 WIB
Fasilitas Toyota Learning Center di Karawang, Jawa Barat KompasOtomotif-DonnyFasilitas Toyota Learning Center di Karawang, Jawa Barat
|
EditorAris F. Harvenda
Surabaya, KompasOtomotif– Menjelang dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, Indonesia mulai introspeksi diri dan menguak berbagai hal yang menunjukkan ketidaksiapan menghadapi perdagangan bebas. Di level industri yang meliputi otomotif, hal terpenting bukan hanya menghasilkan produk berkualitas tapi Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten juga dibutuhkan.

Indonesia tidak bisa berpaling, saat ini kebanyakan insinyur lokal yang dianggap bisa menjadi pilar penting pengembangan industri tidak memilih bekerja profesional di bidang yang seharusnya yaitu engineering.

Menurut data Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada 2013 lalu hanya ada sekitar 700.000 insinyur di Indonesia. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai setengah dari kebutuhan yakni 1,5 juta insinyur. Dari 700.000 insinyur cuma sekitar 9.500 orang yang professional dan bergiat dalam dunia engineering.

Indonesia seakan terdesak dengan tenggang waktu yang tersisa sebelum perdagangan bebas dimulai. Peran profesi engineering berada di bagian industri dalam negeri yang menjadi jembatan antara aliran impor dengan pasar. Posisinya sangat penting sebab Indonesia butuh kekuatan pengembangan dan menciptakan produk engineer sendiri, bukan hanya menjadi pasar saja.

Otomotif
Dari sudut pandang otomotif, Direktur Korporat dan Hubungan Eksternal Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Ir I Made Dana Tangkas memaparkan, dalam bisnis setidaknya ada dua kategori yaitu product/design engineer atau production/process engineer.

“Kalau punya produk engineer berarti harus mengembangkan Research and Development  yang kuat, sementara ini pasar otomotif sekarang masih dikuasai asing,” kata Made Dana usai menjadi pembicara di Sarasehan Nasional 2014 bertema “Meningkatkan Kemampuan Rekayasa Anak Bangsa” yang digelar di kampus Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Rabu (19/11/2014).

Universitas
Investor asing selalu ingin menemukan produk yang tepat untuk pasar Indonesia, lanjut Made Dana, tapi untuk menemukan itu mereka meminta bantuan ke grup mereka sendiri, bukan mengambil dari perguruan tinggi ke Indonesia yang mencetak insinyur lokal.

Selain keraguan perusahaan asing, sebenarnya ada permasalahan lain yakni dari “budaya” insinyur di Indonesia. Paling terasa, sarjana teknik yang mengambil sertifikasi profesi keinsinyuran sesuai bidang yang dipelajari masih sedikit, anggapan pendapatan kecil dan jenjang karir sulit, dan minim koneksi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X