Kompas.com - 01/06/2014, 10:40 WIB
Yamaha R25 di Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (20/5/2014). Febri ArdaniYamaha R25 di Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (20/5/2014).
|
EditorAris F. Harvenda

Jakarta, KompasOtomotif – Indonesia telah didaulat menjadi basis ekspor R25 untuk memenuhi permintaan pasar global. Wakil Presiden Direktur Eksekutif Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Dyonisius Beti, mengungkapkan, pasar utamanya adalah Jepang, kemudian negara-negara berkembang, dan Eropa.

Salah satu alasan kuat Indonesia dipercaya, sebab produk yang dihasilkan punya kualitas nomor wahid. Kapasitas produksi per bulan buat sepeda motor sport berjubah kelas 250 cc tersebut adalah 2.000 unit. Porsinya dibagi dua, 1.000 unit buat domestik, sisanya ekspor.

“Kandungan lokal R25 mencapai 94 persen, mesin juga sudah lokal. Sisanya hanya tinggal komponen seperti ban dan yang lainnya. Kualitas barang produksi Yamaha Indonesia sudah memenuhi standar dunia. Bahkan kalau di Jepang, mereka sangat detail, sedikit saja ada yang salah mereka rewel. Sebenarnya pasar Jepang itu lebih sulit daripada Eropa ataupun Amerika Serikat,” papar Dyon.

Kesepakatan
Dijelaskan, selain sebagai basis produksi, Indonesia juga diplot sebagai basis pengembangan. R25 hanya langkah awal. Nantinya tidak hanya 250 cc, ada peluang merambah ke kelas lain. Di level tertentu, butuh produk-produk yang bisa diterima konsumen global.

“Sebenarnya kita ada satu deal, kalau kita sudah ada pabrik terbesar di dunia, tantangannya kenapa kita tidak menjadi basis produksi untuk seluruh dunia. Kita minta seperti itu. Makanya diserahkan politik seperti R25. Sebenarnya produk ini kuantitinya akan besar, harga R25 di Indonesia sebenarnya terhitung kecil di Eropa,” beber Dyon lagi.

Tunda ekspor
Kendati banyak yang diungkapkan soal ekspor, fokus utama tetap di Tanah Air. YIMM memilih untuk menyelesaikan lebih dulu “hutang” kepada 2.800 konsumen yang sudah memesan R25. Distribusi unit mulai dilakukan pada Agustus, setelah produksi massal dimulai Juli.

“Terpaksa kita tunda ekspor karena hal ini. Sekarang sedang kami susun ulang, kami prioritaskan untuk domestik terlebih dahulu, karena indennya sudah melebihi target,” ujar Dyon.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Awalnya jadwal ekspor akan dilakukan pada Agustus, namun melihat antusiasme besar masyarakat Indonesia, ada kemungkinan diundur hingga 2015. Setelah ingar-bingar selesai, prediksinya permintaan menjadi normal di angka 1.000 unit per bulan, “Saya pikir kalau cuma 1.000 untuk lokal, tidak terlalu sulit untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Kita sudah siapkan 50:50, 1.000 untuk lokal dan 1.000 untuk ekspor,” tutup Dyon.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.