GM Mulai Galau di Korsel

Kompas.com - 30/05/2014, 12:45 WIB
Malibu salah satu sedan yang diproduksi GM di Korsel. GM/CarscoopMalibu salah satu sedan yang diproduksi GM di Korsel.
|
EditorAris F. Harvenda
Busan, KompasOtomotif - General Motors (GM) mulai galau menghadapi tekanan bisnis di Korea Selatan. Tuntutan upah kerja yang tinggi dari serikat kerja, serta penguatan nilai tukar won yang mencapai rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir terhadap dollar Amerika Serikat, menjadi dua faktor utama penyebabnya.

"Negosiasi gaji menjadi hal yang sangat kritis yang pernah kami hadapi selama ini dengan pihak serikat pekerja. Saya akan lakukan apapun yang mungkin dan tidak mungkin untuk menjamin  kita punya masa depan yang pasti," jelas Sergio Rocha, Chief Executve Officer GM Korea dilansir Automotive News (28/5/2014).

Para pekerja di Korsel menuntut adanya upah buruh lebih baik setelah Mahkamah Agung Korsel mengeluarkan peraturan baru, yakni bonus periodik dan kompensasi lain wajib dimasukkan di dalam gaji pokok. Hyundai Motor Company, produsen mobil lokal terbesar dan Kia tengah memperjuangkan haknya di meja hijau dengan serikat pekerjanya karena masalah ini.

"Dengan mengitegrasikan bonus dan tunjangan lain ke gaji pokok, ongkos kerja otomatis langsung melesat naik. Ini tidak bagus bagi GM Korea, tidak juga untuk industri, dan tidak juga untuk Korea," beber Rocha.

Keputusan mahal
Jika dituruti, maka setidaknya akan ada beban tambahan 13,75 triliun won bagi ongkos pekerja di perusahaan, di seluruh Korea Selatan, menurut Federasi Pekerja Korea. Menaikkan gaji pokok otomatis memperbesar beban operasional, karena biasanya dijadikan patokan untuk menghitung yang lain, termasuk biaya lembur sampai kenaikan tahunan.

Saat ini GM Korea masih dalam tahap pembicaraan soal pembayaran pekerja, termasuk keputusan gaji pokok. Salah satu perwakilan dari Serikat Pekerja GM Korea, masih belum mau berkomentar soal masalah ini.

Rocha melanjutkan, GM Korea saat ini menjadi basis produksi untuk beberapa model global, seperti Chevrolet untuk memasok kebutuhan Australia dan Jerman. Kondisi semakin diperburuk dengan terus menguatnya nilai tukar won, sehingga memangkas keuntungan ketika ekspor mobil ke luar Korsel.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X