Perang Diskon Mobil dan Sepeda Motor Berlanjut hingga Akhir 2014

Kompas.com - 29/04/2014, 13:12 WIB
Ada dua tipe yang diekspor, sama seperti yang dipasarkan di Indonesia. Agung KurniawanAda dua tipe yang diekspor, sama seperti yang dipasarkan di Indonesia.
|
EditorAris F. Harvenda
Jakarta, KompasOtomotif -- Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Sudirman Maman Rusdi, mengatakan, kondisi pasar otomotif nasional masih belum bisa mengimbangi kapasitas produksi. Pasalnya, besarnya pasokan unit dari pabrik tidak diikuti dengan kemampuan daya serap.

"Semua pemegang merek mau memenuhi kapasitasnya yang sudah lebih besar, sementara daya serap masih di bawah kapasitas, maka terjadi perang diskon. Prediksi kami, akan terus terjadi sampai akhir tahun," jelas Sudirman di sela RUPST, di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (29/4/2014).

Prijanto Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk (Grup Astra), menjelaskan, dari divisi otomotif, penjualan sepeda motor dan mobil Astra masih tumbuh positif. Kalaupun tetap terjadi perang diskon, diharap tidak separah dari kondisi akhir tahun lalu, apalagi melihat pelemahan rupiah masih terjadi terhadap dollar Amerika Serikat.

"Kami masih melihat ada potensi yang besar di Indonesia," tukas Prijono.

Kuartal kedua
Suparno Djasmin, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM), menjelaskan, kondisi pasar mobil nasional pada kuartal kedua tahun ini diprediksi masih tetap sama alias flat dibandingkan tiga bulan pertama 2014. Kondisi suplai kendaraan yang besar masih menjadi faktor utama perlambatan penjualan.

"Kami perkirakan suplai masih belum bisa dinormalisasi. Kuartal kedua kampanye penjualan, diskon, dan berbagai program pemasaran masih berlanjut, apalagi memasuki bulan puasa dan Lebaran," beber pria yang akrab dipanggil Abong ini.

Seperti diketahui, Grup Astra harus takluk pada ketatnya persaingan pasar di Tanah Air. Buktinya, laba bersih bisnis divisi otomotif periode kuartal pertama 2014 harus turun 9 persen menjadi tinggal Rp 2 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai Rp 2,2 triliun.

"Kondisi penumpukan stok tidak cuma terjadi di Grup Astra, tetapi di semua merek. Artinya, kondisi pemegang merek lain juga sama saja," tutup Abong.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X