Tantangan Mahasiswa Menciptakan Mobil Irit dan Energi Alternatif

Kompas.com - 30/01/2014, 19:30 WIB
Inilah mobil prorotipe Rakata ciptaan mahasiswa ITB, ditargetkan 1 liter etanol untuk melaju 600 km. Tim Rakata (ITB)Inilah mobil prorotipe Rakata ciptaan mahasiswa ITB, ditargetkan 1 liter etanol untuk melaju 600 km.
|
EditorZulkifli BJ

Jakarta, KompasOtomotif – Dari Shell Eco-Marathon Asia, kita bisa membuka mata bahwa bangsa ini dapat menciptakan kendaraan alternatif yang sangat efisien. Itulah yang harus dilakukan oleh 18 tim mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Sebagai contoh, mobil prototipe karya Politeknik TEDC Bandung yang akan dilombakan, konsumsi bahan bakarnya ditargetkan 2.000 km per liter bensin (mobil tidak harus menempuh jarak 2.000 km). Sedangkan Cikal Diesel - mobil kota bermesin diesel dari Institut Teknologi Bandung (ITB) - menargetkan konsumsi biodiesel 180 km/liter   

Tak kalah penting, para mahasiswa tersebut (dibimbing langsung oleh dosen), juga dituntut menciptakan mobil energi alternatif seperti etanol, listrik dan hidrogen. 

Lantas apa tanggapan mahasiswa dari perguruan tinggi di atas dengan tantangan dari Shell? Felix, perwakilan tim Cikal Diesel ITB menyatakan bahwa bioenergy seharusnya sudah bisa diterapkan di Indonesia.

”Tujuan kami menciptakan Cikal Diesel ini untuk menerapkan teori selama kuliah dan ikut lomba. Tetapi, lebih dari itu, kami para mahasiswa teknik sebenarnya ingin teknologi diciptakan oleh orang-orang Indonesia dapat dimanfaatkan," jelasnya. 

Masih dari Bandung, tim Rakata menciptakan mobil berbahanbakar etanol, juga menyatakan hal senada. ”Di Brazil, etanol sudah banyak digunakan. Kami ingin mengenalkan bahan bakar ini sebagai alternatif dan segera bisa diproduksi di Indonesia,” ujar Habib Suryo, manajer tim.

Menguap
Keinginan mereka jauh dari kenyataan. Contohnya, langkah yang diambil Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menerapkan Peraturan Menteri ESDM No. 25/ 2013 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN, realisasinya terus menguap.

Dalam peraturan ini, disebutkan keharusan penyedia bahan bakar harus mencampur bahan bakar nabati (BBN) dengan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk transportasi (mencampur bioetanol 1 persen pada BBM nonsubsidi). Seharusnya, aturan ini mulai berlaku 1 September 2013.

PT Shell Indonesia (SI) sebagai salah satu penyedia bahan bakar, sebenarnya menyatakan kesiapannya jika memang harus demikian. Dikatakan Inggita Notosusanto, Communication Manager SI, kendala di lapangan cukup banyak antara lain elemen dari hulu hingga hilir untuk menyiapkan bahan baku bioenergy.

”Tentang energi masa depan, kami senantiasa mencari ke arah sana. Kami yakin tidak akan terlalu lama bisa diterapkan, terutama untuk etanol dan biodiesel. Penjajakan dan kerjasama terus dilakukan. Sekarang kami yang balik bertanya, bagaimana dengan kesiapan industri?” ujar Inggita.

Tak hanya jalur distribusi pasokan bahan baku nabati, Inggita mengaku khawatir dengan industri otomotif. Pasalnya, pelaku industri harus menyesuaikan diri bila bahan bakar baru harus digunakan. Bila tidak, akibat menggunakan bahan bakar alternatif tersebut garansi bisa hilang. 

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X