Menaklukkan Sentul dengan Honda CBR 250R

Kompas.com - 27/02/2011, 18:48 WIB
EditorBastian

SENTUL, KOMPAS.com - Setelah di sirkuit Bira di Thailand (akhir Oktober 2010), Kompas.com kembali memperoleh kesempatan membesut Honda CBR 250R yang digelar PT Astra Honda Motor (AHM) di sirkuit Internasional Sentul, Cibinong, Bogor, Sabtu (26/2). Bedanya, dalam test ride kali kedua ini yang dikebut bukan cuma CBR250R dengan teknologi CBS (Combined Brake System) dan ABS (Anti-lock Brake System) seperti di Thailand, tapi juga disediakan tipe standarnya (tanpa ABS).

Ketika mengamati sepeda motor sport terbaru Honda untuk pasar Indonesia ini, ada perbedaan dengan produksi Thailand. Pada bagian depan dikasih tempat untuk nomor polisi. Trus, lampu utamanya saat kunci kontak di posisi "ON" tidak langsung menyala. Kemudian standar emisinya, jika di Thailand sudah Euro3, Indonesia masih Euro2.

Perbedaan lain yang ingin diketahui, soal akselerasi dan kecepatan maksimum. Sebab, ketika di Thailand, dalam katalog tidak dijelaskan berapa tenaga dan torsi maksimum serta konsumsi bahan bakar.

"Kami belum memberi data tersebut karena setiap negara mempunyai metode yang berbeda. Kecuali kalau sudah diberikan, baru kita lakukan," ungkap Noritaki Takomi, Development Project Leader CBR250R menjawab pertanyaan Kompas.com.

Akselerasi lebih bagus Masuk sesi tes, Kompas.com yang masuk grup I dipandu pebalap motor nasional Harlan Fadillah. Karena sudah punya pengalaman di Thailand, tentu ingin dirasakan seperti apa akselerasi dari mesin 249 cc DOHC 4-Tak, 4-katup dengan silinder tunggal yang sudah dilengkapi dengan Programmed Fuel-Injection (PGM-FI). Begitu juga kecepatan maksimum yang dilakukan di trek lurus 900 meter dengan dua cara.

Tahap pertama, keluar tikungan terakhir dengan gigi dua lantas memaksimumkan putaran mesin pada 10.500 rpm pada gigi tiga dan empat diraih kecepatan maksimum 151 km/jam. Cara kedua, tetap gigi dua tapi dengan putaran mesin 7.500, hasilnya 158 km/jam. Bisa segitu lantaran itulah torsi terbaiknya (mungkin bisa sampai 8.000 rpm), selain Kompas.com juga mengikuti racing line dari Harlan.

Namun, saat menjajal yang non-ABS justru kecepatan maksimum hanya 149 km/jam. Lebih rendah lantaran tak berani mengerem terlalu dekat, bahkan di tikungan "S" kecil, roda belakang sempat sliding dan beruntung tidak jatuh. yang jelas tenaga bawahnya lumayan galak, dan ketika bermain di putaran atas getaran mesin agak terasa, ini memang ciri mesin silinder tunggal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika pakai yang ABS, goncangan tidak terasa saat melindas tampalan semen di hampir semua tikungan. Boleh jadi getaran sudah diredam oleh kerangka model "diamond" dari pipa baja yang dipadu dengan suspensi Pro-link. Rem, baik depan (tuas) dan belakang (pedal) tak perlu ditarik dan ditekan maksimal, tapi cukup dengan sentuhan ringan, penghenti laju sudah bekerja. Bahkan di tikungan R3 saat ke luar racing line, dengan menarik tuas rem depan secara halus, motor masuk kembali ke jalurnya.

Mengenai akselerasi, ternyata CBR 250R untuk Indonesia sedikit lebih baik. Dengan mengandalkan putaran mesin maksimal 8.000 rpm gigi I mencapai 35 km per jam, gigi II 57km/jam, dan gigi III 91 km/jam.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.