Perusahaan Rokok Kaya, Petani Tembakau Tetap Miskin

Kompas.com - 27/02/2009, 19:18 WIB

JAKARTA, JUMAT — Meski perusahaan rokok meraup keuntungan besar dari penjualan, petani tembakau masih tetap miskin. Petani tembakau memiliki posisi tawar yang rendah terhadap industri rokok karena kualitas tembakau ditetapkan oleh grader tanpa sepengetahuan petani tentang standar kriteria yang digunakan, sementara harga tembakau juga ditetapkan oleh tengkulak atau pembeli daun tembakau.

"Dengan sistem kemitraan, posisi tawar petani menjadi lebih rendah. Meski ada jaminan pembelian, tetapi harga jual tidak berubah walaupun harga pasar naik," kata Dr Widyastuti Soerojo dari Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) di Jakarta, Jumat (27/2).

Data dari Departemen Pertanian menunjukkan bahwa jumlah petani tembakau tahun 2004 adalah 686.000 petani, sekitar 1,6 persen dari jumlah tenaga kerja di sektor ini atau 0,7 persen jumlah tenaga kerja di Indonesia. "Jadi gertakan bahwa ada 22 juta petani tembakau itu omong kosong," kata Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Petani tembakau pun bukan pekerja purna-waktu karena hanya empat bulan dalam setahun mereka mengerjakan pertanian tembakau. Dalam mata rantai bisnis industri rokok, petani merupakan pemasok bahan baku utama. Tanpa petani tembakau, industri rokok akan gulung tikar.

"Apakah petani tembakau sudah menikmati tingkat kesejahteraan setara dengan melonjaknya produksi rokok dan keuntungan industri rokok?" tanya Widyastuti.

Studi yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyebut tiga penghasil utama tembakau (Bojonegoro, Kendal, dan Lombok Timur) baru-baru ini menemukan bahwa upah rata-rata buruh tani per bulan adalah Rp 413.000 atau 47 persen dari upah rata-rata nasional.

Data Statistik Upah 2005 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa upah petani tembakau per hari sebesar Rp 3.637 adalah terendah di antara enam komoditas pertanian (tebu, kelapa sawit, teh, kopi, tembakau, dan cokelat) dan merupakan separuh rata-rata upah petani tebu sebesar Rp 6.677 per hari.

Keuntungan sebesar rata-rata Rp 4,1 juta selama empat bulan tidak seimbang dengan risiko cuaca buruk (hujan) yang merusak daun tembakau, serangan hama, dan rendahnya harga karena volume penawaran yang lebih besar daripada jumlah pembeli.

Menjadi ironis ketika pendapatan petani yang berada di bawah angka rata-rata upah nasional dibandingkan dengan keuntungan industri rokok. Majalah Globe Asia beberapa waktu lalu mengumumkan 10 orang terkaya di Indonesia, tiga di antaranya adalah pengusaha rokok. Keuntungan bersih perusahaan rokok jauh melebihi semua yang dimiliki petani tembakau.

Sampai dengan triwulan ke-3 tahun 2008, PT Sampoerna Tbk telah menangguk keuntungan bersih Rp 3,1 triliun. "Sementara itu, sampai pertengahan tahun 2008, laba bersih Gudang Garam adalah Rp 891,3 miliar," papar Widyastuti.

Indonesia berada di urutan ketiga dari jumlah konsumsi rokok dunia setelah China dan India. Di Indonesia ada 63 juta perokok. Adiksi yang diakibatkan oleh rokok membuat orang tidak dapat berhenti merokok. "Ini memperburuk situasi orang miskin karena sebagian besar penghasilannya untuk membeli rokok," kata Abdillah Ahsan dari Lembaga Demografi FEUI.

Karena itu, sudah saatnya DPR segera menyelesaikan RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau terhadap Kesehatan agar tidak semakin banyak korban anak-anak dan remaja yang menjadi perokok.


Editor

Close Ads X