
|
Chevrolet Apache Laris Jadi Bintang
Kamis, 13/11/2008 | 07:18 WIB
Ketika teronggok karat, melihat saja ogah. Namun, begitu disentuh tangan dingin Yudhi, Chevrolet Apache 3.8 1958 milik Nur Hidayat Budi Handoko ini justru jadi andalan sebagai kendaraan pendukung dunia hiburan. Sejak pertama kali ditemukan, proses yang dijalani Apache cukup rumit. Pikap lawas asal Amerika ini, tadinya hanya seonggok kabin depan serta sasis yang sudah berkarat berat. Alasan dibangun, "karena kabin depan dan kap mesin yang merupakan mahkota masih bisa diselamatkan," ungkap Yudhi. Sementara sasis yang sudah berkarat disingkirkan. Sebagai pengganti dicari kerangka yang mampu membuat bodi lebih ceper. Beberapa sasis dari mobil buatan Amerika tak ada yang pas, akhirnya didapat juga. "Bentuknya tidak lurus sejajar, melainkan punya kontur melengkung di depan dan belakang. Mirip sasis sedan Amerika," papar Yudhi. Sasis yang baru ini membawa suspensi independen denngan sistem trosi pada bagian depan, per daun untuk suspensi belakang. Per daun untuk suspensi belakang diambil dari satu set milik Chevrolet Luv yang titik tengahnya dimajukan 11 cm. Tujuannya, agar bantingan tidak terlalu empuk. Kerangka beres, giliran mencari bak belakang, untuk Apache 3.8 ini aslinya punya desain bak kuping yang cukup panjang dengan spek beban 3/4 ton. Tapi, Yudhi lebih sreg dengan ukuran yang pendek. Maka dipakailah bak Apache 3.1 yang punya spek beban 1/2 ton. Langkah selanjutnya membangun detail bodi. "Emblem-emblem dan lis bodi memang sulit didapat, tak sebanyak sedan," sebut Yudhi. Apron depan dirancang berkesan ceper. Caranya, lekukan gril kap mesin ditutup denngan pelat, lalu bumper asli krom di cat hitam solid senada bodi. Detail bak belakang dimunculkan dengan lap;isan kayu merbau dan lis stainless steel spek 304BA. "Tebal kayu merbau sekitar 3 cm lalu dipernis. Untuk pembuatan bak belakang menghabiskan biaya Rp 4 juta. Mesin dan Interior Untuk interior ditonjolkan aliran lowrider asal Amrik dengan sedikit sentuhan kreatif. Seperti jok yang berkonstruksi per ini dibikin motif kulit ular. Dasbor, sekilas seperti asli. Rumah indikator berbentuk 'logo Superman' dicabut diganti merek Autogauge. Yang custom lainnya, kolom setir yang dibuat dari selongsongan kopel milik Chevrolet pikap 1941. Sekarang, Chevrolet Apache ini laris jadi kendaraan pendukung syuting film, iklan, acara reality show dan video klip. "Terakhir dipakai Sheila On7 untuk klip video terbarunya," bilang Syarif, anak Nur Hidayat berumur 11 tahun denngan bangga. (Rendy)
SBT komentar anda
Bogi Hindrajid, SH @ Selasa, 18 November 2008 | 13:13 WIB antik dan cantik, speechless, komennya luar biasa. lukman @ Selasa, 18 November 2008 | 11:33 WIB ntah chevy/gm akan jadi mobil classic. buruan beli. ntar kaga terbit lagi loh apalagi kalau tidak ditolong pemerintah amrik. jonathan @ Senin, 17 November 2008 | 14:55 WIB waduh ciamik tong2,di Malang ada jg yg gituan cm gak kuat modal,jd krg ciamik he he he...Bang Yudhinya dimana ya? diki setiawan @ Kamis, 13 November 2008 | 10:03 WIB Pengen liat orang indonesia yg bisa bikin mesin mobil buatan Indonesia asli,jangan cuma bodinya aja. Kalo bodi semua sudah yahud deh,kalau mesin asli Indonesia itu baru hebat Posting komentar anda
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
|
|