BMW dan Ferrari Bikin Mobil di India
Senin, 9/6/2008 | 10:07 WIB

INDIA, SENIN – Keberhasilan India membuat mobil mungil Tata Nano dengan harga sekitar Rp 25 juta cukup memusingkan produsen yang telah lebih dulu hadir. Tidak cuma pabrikan dari Jepang, tapi juga Eropa ikut tersengat. Seperti Smart ForTwo, karya bersama Mercedes dan perusahaan jam Swatch, yang harganya di atas Rp 300 juta. Kemudian Subaru dengan R1 dan R2 yang mematok harga di atas Rp 145 juta.Terakhir, Mitsubishi yang bersiap memproduksi i-MiEV bertenaga listrik.

Yang cukup terganggu dengan kehadiran Nano supermurah adalah GM. Produsen mobil raksasa  dari Amerika itu sudah menggandeng China untuk memproduksi kendaraan mikro, dengan harga sekitar Rp 33 juta per unit.

Dari Jepang sendiri, Suzuki sudah masuk ke India. Produk yang dihasilkan sudah diluncurkan tahun lalu di Indonesia, yakni Karimun Estilo. 

Sukses produsen mobil nasional India Tata telah membuat pabrikan mobil Eropa, seperti BMW, kepincut ingin membuat kendaraan mikro di India. Rencana ini sudah disampaikan Presiden Direktur BMW India Peter Kronschnabl bahwa BMW sedang mempelajari potensi memperkenalkan produk terbarunya. “Saya tak bisa mengatakan kapan mobil itu ditampilkan di India karena kami mesti diskusi dengan  pusat (Jerman),” tutur Kronschnabl.

Lebih jauh, Kronschnabl menegaskan, kendaraan mikro yang bakal mereka produksi tidak akan menjadi saingan Nano, tapi sebagai kendaraan mungil yang mewah. Karena itu, harga per unitnya diperkirakan sekitar Rp 455 juta.

Selain BMW, Ferrari juga  berencana melirik India. Mereka tampaknya akan meminang produsen mobil raksasa India, Tata Motors. Kebetulan bos Tata,  Ratan Tata, juga masuk dalam manajemen di FIAT (India) yang juga sudah bekerja sama dengan Tata. Ratan mengaku dirinya sudah diundang bos FIAT dan Ferrari, Luca Di Montezemolo, ke Italia.

Kabar baru lagi, Toyota sudah mengibarkan bendera perang untuk kendaraan kecil itu. Bukan di Thailand sebagai basis produksinya, melainkan di India juga. Lokasinya di  Bangalore. SBT

 


SBT
A A A
komentar anda
astra @ Rabu, 25 Juni 2008 | 15:24 WIB
ngapain gue bikin mobil nyusahin, jualan n jadi tukang jahit punya orang aja gua udah kaya, klo mo bikin bikin aja sendiri
martin @ Rabu, 11 Juni 2008 | 21:56 WIB
mestinya FUNGSI UTAMA >> pajak kendaraan bermotor = mengatur..."alias"... mengatur banyak kendaraan bermotor yang proporsional, artinya jumlah kendaraan harus serasi dengan jumlah jalan yang ada, sehingga yang nama kemacetan tidak akan terjadi... tapi yang nama pemerintah pengin uang terus masuk ke kocek yang begitulah.... O IYA KAN PAKKKKK...
budhie@ @ Rabu, 11 Juni 2008 | 17:35 WIB
makanya mahasiswa skrg banyak belajar n pikir kritis..jgn kebanyakan demo n abis demo ngkrong2 lg...gmna mo pinter...buat pemerintah anggaran pendidikan hrs no1...pendidikan no 1 bung.....
ali @ Selasa, 10 Juni 2008 | 16:28 WIB
Orang Indonesia, terutama pejabat2nya itu sukanya yang sudah matang, jadi mereka tidak mau susah2 dulu untuk mendapatkan duit. Mereka berpikir kalau bisa beli murah dari negara lain, kenapa mesti bikin, itu juga membuktikan bahwa mereka tidak pernah memikirkan negara dan rakyat negeri ini, tetapi yang penting diri dan anak serta 7 keturunannya bisa dapat duit.
jhosa @ Selasa, 10 Juni 2008 | 09:39 WIB
india aja yang ekonominya lebih parah dari kita bisa di lirik oleh produsen otomotif kenapa kita tidak??? coba mari berfikir . apa ini artinya indonesia negara yang tak punya arti apa indonesia gak punya kemampuan untuk kerja sama? mari berbenah
20 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
  
    No Latest

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort