Tata, Profil Pemilik Baru Land Rover dan Jaguar
Kamis, 27/3/2008 | 04:01 WIB

LONDON, RABU - Tata, perusahaan asal india yang memberi merk Jaguar dan Land Rove, adalah salah satu kelompok usaha tertua di India. Saat ini Tata  mulai merambah manca negara dengan terlibat dalam industri mulai dari baja, mobil, hotel, dan teknologi informasi. Tata adalah konglomerat multinasional yang sangat kuat dengan nilai pasar lebih dari 70 miliar dolar dengan jumlah pekerja mencapai 290.000 orang.

Meski demikian, kendali kelompok bisnis ini sebagian besar masih di tangan keluarga pendirinya, Jamsetji Tata, sedangkan, cucunya, Ratan Tata, adalah pimpinan tertinggi kelompok usaha ini. Selama lebih dari satu abad, kelompok perusahaan tata adalah kelompok bisnis yang paling dipuja di India.

Bila Anda belum pernah mendengar nama Tata sebelumnya barangkali Anda pernah miinum teh Tetley yang diberli Tata pada tahun 2000. Atau Anda pernah menggunakan kabel serat optik bawah laut untuk melakukan  percakapan telepon jarak jauh. Atau siapa tahu Anda pernah menginap di salah satu hotel milik perusahaan ini.  Tahun lalu, Tata membeli hotel Ritz Carlton di Boston, Amerika Serikat.

Industri baja


Bis dan truk buatan Tata sudah banyak digunakan di berbagai negara di Afrika dan Asia.  Januari lalu, mereka meluncurkan NANO, salah satu mobil termurah di dunia, dengan harga sekitar 2.500 dolar AS (sekitar Rp30 juta). Sementara, perusahaan piranti lunaknya diluncurkan di tahun 1960-an, jauh sebelum boom IT di sana.

Namun kelompok perusahaan ini membuat berita besar di tahun 2007 ketika berhasil mengambil alih perusahaan baja patungan Inggris-Belanda, Corus, dengan nilai 12 miliar dolar. Ini adalah pengambilalihan terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan India, membuat kelompok Tata menjadi perusahaan pembuat baja kelima terbesar di dunia.

Kelompok Tata ini didirikan di abad ke-19, ketika India masih menjadi bagian dari Kerajaan Inggris. Mereka sekarang memiliki 96 perusahaan, dengan nilai aset sekitar 22 miliar dolar. Ini adalah perusahaan swasta terbesar dan sekarang menjadi pemilik baru Jaguar dan Land Rover. (BBC)


MBK
A A A
komentar anda
dayatama joan @ Jumat, 28 Maret 2008 | 22:27 WIB
Bravo...! india..! kapan Indonesia bisa membeli India yah...!!??MIMPI X!!!!rakyat Indonesia aja masih banyak yang kurang gizi, gimana ada tenaga buat bangun negeri...!!!!
edho @ Jumat, 28 Maret 2008 | 12:19 WIB
Salut sama acha acha...Dasar dari Mahatma Gandhi utk mencintai produk dalam negeri mereka bisa wujudkan, bahkan sekarang mereka mampu ekspansi, tugas berat pemerintah utk menanamkan nasionalisme yg lebih bersifat laten, ngak nasionalisme semuKapan giliran Indos Nesos ?
agus @ Kamis, 27 Maret 2008 | 20:14 WIB
alah lagi...orang india itu senengnya bisnis..nggak suka shopping...pelit...kalo orang indonesia itu nggak seneng usaha..senengnany terima duit aja..sama shopping di luar negeri..gengsi...ada duit lebih dikit aja maunya kawin lagi atau jalan-jalan shopping di singapore....nggak pernah mikir usaha...makanya duitnya abis terus di luar negeri
andreas @ Kamis, 27 Maret 2008 | 13:43 WIB
kalau di india yang jadi konglomerat adalah putra aslinya, sehingga kecil kemungkinan untuk melarikan dananya keluar negeri untuk persiapan untuk melarikan diri, berbeda dengan indonesia duait disimpan atau dinvestasikan di luar untuk persiapan menyelamatkan diri. hal karena konglomeratnya bukan putra asli.
4 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
  
    No Latest

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort