Nyaman dengan Mesin Diesel
Bahan bakar biodiesel yang telah dikembangkan sejak beberapa tahun lalu, digunakan sebagai bahan bakar alternatif, sekaligus untuk menekan polusi udara dari kendaraan bermesin diesel.
Senin, 24/3/2008 | 06:36 WIB

DUNIA otomotif patut berterima kasih pada Rudolf Diesel, karena mesin diesel temuannya pada tahun 1892 - dan dipatenkan pada 23 Februari 1893 dan terus mengalami perkembangan - sekarang banyak digunakan pada berbagai jenis kendaraaan, termasuk mobil.
 
Namun mesin diesel yang identik dengan getaran yang keras berikut asap hitam yang mengepul menjadi hal yang tak dapat dimungkiri. Oleh beberapa orang hal ini memang dianggap wajar mengingat pasokan udara yang lebih banyak ke silinder mesin --dibandingkan dengan mesin bensin-- akan menghasilkan letupan yang lebih keras, tenaga lebih besar dari setiap bahan bakar yang masuk. 
 
Tapi jika getaran yang muncul terlampau besar dan asap yang keluar melebihi batas normal maka sudah selayaknya Anda curiga ada sesuatu dengan mobil. Pada umumnya hal tersebut terjadi karena timing/saat pengabutan pada injector tidak tepat, celah klep yang tidak tepat, air filter atau saringan udara sudah sangat kotor dan lain-lain. Karenanya penyetelan ulang pada mesin sesuai dengan prosedur dan spesifikasi yang benar. Untuk itu membawa mobil ke bengkel kesayangan menjadi langkah yang paling tepat untuk dilakukan, di samping perawatan secara rutin.

Pada intinya perawatan untuk mobil bermesin diesel tak jauh berbeda dengan mobil berbahan bakar bensin, hanya saja pengecekan pada filter oli, filter udara, dan penggantian pelumas mesin secara teratur menjadi hal utama yang patut diperhatikan. Bacalah buku manual untuk mengetahui jenis pelumas mana yang paling tepat untuk mobil Anda.

Untuk mengurangi kepulan asap, para ahli di bidang otomotif telah mengembangkan teknologi common-rail direct injection menyusul kenyataan bahwa partikel solar memiliki bobot yang lebih berat dari pada bensin, maka untuk meningkatkan proses penghancuran partikel tersebut, solusinya adalah dengan meningkatkan tekanan solar yang dimasukkan ke ruang bakar. Di sinilah common rail memegang peran yang amat penting. Sebagai catatan, mesin yang menggunakan teknologi ini  membutuhkan bahan bakar solar dengan kandungan sulfur yang rendah. - (ASP)



Share on Facebook
Nilai 9 A A A
komentar anda
tafarrell riordan @ Minggu, 13 April 2008 | 19:25 WIB
Panther gak ada tandingannya saya sudah coba kendaraan merk laen hasilnya berat di ongkos alias Boros ....wah memang PANTHER is OK....saya tunggu inovasi panther yg lebih ok lagi....I LOVE Panther.....
m. subakti eko yunianto @ Selasa, 25 Maret 2008 | 00:32 WIB
mesin diesel atau mesin bremium sebenarnya sama saja, jikalau tidak diimbangi dengan perawatan yang benar2 teratur dan teliti.......hemat atau tidak juga tergantung dari segi mesin dan pengendara itu sendiri....tapi emang kalo kita menggunakan diesel tenaganya akan lebih terasa ketika kita berada ditanjakan......
agung suprayogi @ Senin, 24 Maret 2008 | 21:44 WIB
isi tangki fulll tank masukkan kamper ke tangki bbm dijamin larinya ngacir...-
munyux @ Senin, 24 Maret 2008 | 10:52 WIB
menurut saya agak sulit untuk menekan polusi oleh mesin diesel. itu disebabkan karena sebagian masyarakat lebih senang menggunakan mesin diesel karena asapnya yg dapat mengubah siang menjadi malam dijalanan. selain dari segi posotif yaitu hemat BBM. meskipun lebih hemat, apabila jarang diservis yg terjadi malah sebaliknya. asap amat sangat pekat dan juga tarikan lebih berat dan boros juga...
4 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
  
    No Latest

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort