Hobi Naik Motor Sport, Pelajari Teknik Pengereman - Kompas.com

Hobi Naik Motor Sport, Pelajari Teknik Pengereman

Kompas.com - 21/01/2018, 17:35 WIB
Pelatihan teori safety riding, sebelum menunggangi RC213V-S di Safety Riding Center Wahana Jatake (18/8/2017).Istimewa Pelatihan teori safety riding, sebelum menunggangi RC213V-S di Safety Riding Center Wahana Jatake (18/8/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu ciri khas dari sepeda motor sport adalah performa mesin yang lebih tinggi dari dua jenis motor lainnya, yakni skutik dan motor bebek. Maka dari itu, biasanya, pengendara motor sport melaju dengan kecepatan tinggi.

Ketika berada pada kecepatan tinggi, maka teknik pengereman menjadi penting untuk dipelajari dan dipahami dengan benar sehingga tidak terjadi kecelakaan. Apalagi bagi anda yang hobi mengendarai motor sport, khsusunya motor sport yang belum dibekali sistem anti-lock braking system (abs).

Jusri pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) menjelaskan bahwa secara umun teknik pengereman mengendarai motor hampir sama, baik motor sport, bebek maupun skutik.

Ketika motor melaju di bawah 30 kpj, maka menggunakan rem belakang. Kemudian, pada kecepatan di atas 30 kpj hingga 80 kpj, maka gunakan kombinasi rem depan dan belakang.

Baca juga : Cara Cek Kondisi Kampas Rem Cakram Sepeda Motor

Sedangkan pada kecepatan di atas 80 kpj atau kecepatan tinggi, maka porsi penggunaan rem lebih banyak dibebankan pada rem depan. Selain itu, pengereman juga harus dilakukan ketika motor dalam keadaan lurus. Selain itu dilakukan secara halus.

Lantaran motor sport kerap dipacu pada kecepatan tinggi, maka teknik pengereman pun lebih banyak di bebankan pada rem depan. "Kalau kecepatan 80 kpj ke atas, pakai rem depan, dilakukan secara smooth (halus)," kata Jusri saat dihubungi, Minggu (21/1/2018).

Setelah laju motor berkurang, dan berada pada kecepatan sekitar 80 kpj ke bawah maka pengereman dilakukan secara kombinasi dengan rem belakang. Begitu pun setelah laju motor berada pada kecepatan 30 kpj ke bawah, maka pengereman lebih banyak dibebankan pada rem belakang.

"Pastikan ketika berhenti, kaki kiri turun duluan, karena kaki kanan harus pada posisi siap mengerem," kata Jusri.

Teknik pengereman sepeda motor, jari tidak ada yang menyentuh tuas saat berkendara.Stanly/Otomania Teknik pengereman sepeda motor, jari tidak ada yang menyentuh tuas saat berkendara.

Pengereman Darurat

Pengereman darurat yang dilakukan pada saat kecepatan tinggi dilakukan dengan cara dikocok terhadap rem roda depan. Teknik ini dikenal juga dengan istilah squezee.

Jadi, pengereman tidak boleh dilakukan dengan cara menarik tuas satu kali sekaligus. Sebab, cara ini berbahaya karena bisa membuat pengendara terlempar ke arah depan.

Kemudian, pengereman juga dibantu dengan rem belakang. Jika masih kurang cukup, maka dibantu lagi dengan menurunkan transmisi atau engine brake.

Ketika terpaksa melakukan pengereman dengan cara ini, maka lakukan dengan halus, tenang dan tetap fokus. Jangan sampai terjadi rem terkunci dan membuat motor bergerak liar sehingga tidak bisa dikendalikan.

"Kalau keadaan darurat maka pengereman harus cepat, harus hard braking, kondisi ini berpotensi membuat  roda terkunci. Ini harus dihindari karena bisa membuat motor kehilangan kendali, bikers bisa terpeleset dan jatuh," kata Jusri.

Baca juga : Deteksi Rem ABS Sepeda Motor Bermasalah

Pengereman darurat mengendarai motor sport ABS

Teknik lebih simpel bisa dilakukan pada motor sport yang sudah dilengkapi sistem ABS. Ketika pada kecepatan tinggi, maka pengereman pada rem depan dan belakang dapat dilakukan bersamaan.

Sebab, pada motor ABS pembagian porsi cengkeraman rem sudah diatur oleh sistem. Sehingga kecil kemungkinan terjadi lock braking yang membuat ban menjadi selip dan bergerak liar.

"Kalau sudah pakai ABS, rem diremas dan kaki dibejek abis tidak apa-apa karenan nanti pengereman diatur oleh sistem," kata Jusri.


EditorAzwar Ferdian
Komentar
Close Ads X