Inspirasi di Balik Pembeli Kawasaki Ninja Pakai Recehan - Kompas.com

Inspirasi di Balik Pembeli Kawasaki Ninja Pakai Recehan

Alsadad Rudi
Kompas.com - 10/11/2017, 16:04 WIB
Pasangan Eko Margono dan Ernawati yang membeli sebuah motor Kawasaki Ninja 250 Fi dengan uang tunai Rp 42 juta yang seluruhnya uang logam.Instagram kawasaki.life Pasangan Eko Margono dan Ernawati yang membeli sebuah motor Kawasaki Ninja 250 Fi dengan uang tunai Rp 42 juta yang seluruhnya uang logam.

Ponorogo, KompasOtomotif - Ada kisah inspiratif di balik pasangan suami istri, Eko Margono dan Ernawati. Keduanya adalah sepasang suami istri yang belum lama ini membeli Kawasaki Ninja 250 FI dengan uang recehan.

Eko dan Erna adalah warga yang tinggal di Dusun Godekan, Desa Taman Arum, Kecamatan Parang, Magetan, Jawa Timur. Di desanya, keduanya membuka usaha tempat penggilingan beras. Dari hasil usaha inilah, keduanya akhirnya mampu membeli motor yang sudah lama mereka idam-idamkan, yakni Kawasaki Ninja 250 FI.

Baca juga : Pasutri Beli Kawasaki Ninja dengan Recehan Rp 42 Juta

Eko dan Erna membeli motor Ninja di Merdeka Motor, diler yang ada di Ponorogo (sebelumnya disebutkan Madiun). Sang pemilik diler, Heru Erlangga menyebut jumlah uang yang dibayarkan Eko dan Erna saat membeli mencapai Rp 64 juta, Rp 42 juta diantaranya uang receh.

"Penggilingan beras itu kan mungkin ya kalau di pedesaan ongkosnya Rp 27.000, yang Rp 20.000 uang kertas, sisanya uang logam. Sama mereka uang logamnya dimasukan ke kaleng," ucap Heru kepada KompasOtomotif, Jumat (10/11/2017).

Uang logam yang dibayarkan pasangan Eko Margono dan Ernawati saat membeli sebuah motor Kawasaki Ninja 250 Fi di sebuah diler di Madiun. Jumlah uang logam diketahui mencapai Rp 42 juta.Instagram kawasaki.life Uang logam yang dibayarkan pasangan Eko Margono dan Ernawati saat membeli sebuah motor Kawasaki Ninja 250 Fi di sebuah diler di Madiun. Jumlah uang logam diketahui mencapai Rp 42 juta.

Menurut Heru, keputusannya mau menerima uang receh dari Eko karena ia menyadari sulit menukarkan uang tersebut di bank.

Sebab di Ponorogo, setiap nasabah hanya bisa menyetor uang receh maksimal Rp 300.000 setiap hari. Jika Heru memaksakan Eko untuk menukarkan uang recehnya, maka prosesnya tidak bisa selesai dalam sebulan.

Heru menyadari keputusannya mau menerima uang receh sebenarnya merepotkan. Apalagi hal tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Namun karena menghargai jerih payah Eko dan istrinya, akhirnya Heru mau menerima uang tersebut.

"Menarik kisahnya. Jadi yang saya hargai itu tekadnya," lanjut Heru.

PenulisAlsadad Rudi
EditorAgung Kurniawan
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM