Jadi Korban di Jalan Raya, Haruskah Menegur Pelaku? - Kompas.com

Jadi Korban di Jalan Raya, Haruskah Menegur Pelaku?

Setyo Adi Nugroho
Kompas.com - 16/10/2017, 10:44 WIB
Ilustrasi kecelakaan motorgas2.org Ilustrasi kecelakaan motor

Jakarta, KompasOtomotif - Berada di jalan raya berarti harus selalu waspada, baik sebagai pengguna kendaraan bermotor maupun pemakai jalan raya lainnya. Di jalan raya semua dapat terjadi, bisa terlibat dalam peristiwa kecelakaan bahkan menjadi pelaku atau korban.

Kasus yang marak di media sosial belakangan ini menjadi contoh, apapun bisa terjadi. Ada kasus perkelahian karena membuang sampah lalu ada kasus tabrak lari yang berujung kejar-kejaran di Bandung yang berakhir pengrusakan terhadap mobil pelaku.

Berada di posisi korban atau yang terlibat dalam sebuah peristiwa di jalan raya, apa yang seharusnya dilakukan? Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) mengungkapkan perlu langkah tepat untuk menyikapi suatu peristiwa.

"Misal kita tidak dirugikan secara langsung, jadi saksi mata, apakah kita boleh menegur? Pikirkan dulu apakah langkah kita akan menimbulkan konflik dengan orang lain? Perlu adanya pencegahan untuk akibat yang lebih besar," ucap Jusri saat dihubungi Minggu, (15/10/2017).

Baca : Usia Produktif Jadi Korban Kecelakaan Lalu Lintas

Jusri mengungkapkan, langkah menegur ketika kita menjadi korban bisa jadi membuat konflik bertambah runyam. Belum berhadapan dengan pelaku yang bisa jadi memiliki ego tinggi, yang menunjukkan superioritas setelah terjadi konflik.

Ada cara elok yang dapat dilakukan bila terlibat konflik dengan orang lain di jalan raya. Pastikan mencatat nomor kendaraannya, bisa dengan foto atau tulisan, lalu laporkan ke pihak berwenang. Jika jalan ini tidak efektif pergunakan media sosial untuk dapat menemukan pelaku. Paling penting ada bukti.

"Kita bisa saja menegur, mengejar, tapi apa bisa pastikan kita berkata dengan sopan tanpa amarah? Saya rasa jarang. Pelaku konflik tidak menghentikan kendaraannya bisa jadi ada dua hal, karena tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu. Pelaku tidak mau berhenti itu yang menyebabkan konflik," ucap Jusri.

Jusri memberikan contoh peristiwa yang terjadi baru-baru ini, bisa dihindari dengan cara-cara yang lebih elegan. Pastikan kita menjauh dari konflik dan biarkan petugas kepolisian menyelesaikan ranah hukum yang telah dilanggar pelaku.

 

A post shared by INFIA - Fact (@infia_fact) on Oct 13, 2017 at 12:33am PDT

PenulisSetyo Adi Nugroho
EditorAzwar Ferdian
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM