Masih Banyak yang Nekat Pakai Rotator dan Sirine - Kompas.com

Masih Banyak yang Nekat Pakai Rotator dan Sirine

Ghulam Muhammad Nayazri
Kompas.com - 09/10/2017, 15:02 WIB
Ilustrasi lampu rotator sirene kendaraan kabarmakassar.com Ilustrasi lampu rotator sirene kendaraan

Jakarta, KompasOtomotif – Pemilik kendaraan bermotor ternyata masih banyak yang nakal dan nekat melanggar peraturan undang-undang, salah satunya adalah penggunaan lampu rotator dan sirine pada mobil pribadi.

Penggunaan dua aksesori tersebut yang tidak pada peruntukannya, tentu meresahkan pengguna jalan lain, dan semakin memperbesar gesekan dan benturan sosial antar masyarakat. Setelah pada 22 September lalu akun Facebook Stefan Chen curhat soal pengguna rotator dan sirine di exit Tol Pandaan menuju Malang, kali ini kembali muncul keresahan serupa.

Namun kali ini kejadiannya lebih parah, si pengguna lampu rotator yang diceritakan Raka Fadliansyah Catigliano, yang postinganya diunggah akun Instagam @Indoricer, bahkan bersikap arogan dan seolah mengintimidasi.

Baca juga : Ada Dua Jenis CCTV untuk Pengawasan Lalu Lintas

Ketika coba ditegur oleh Raka, pengguna lampu rotator tersebut malah membentak dan memaki-maki. Bahkan disebut, kalau pelaku sempat ingin melakukan pemukulan.

Pihak kepolisian sebenarnya sudah pernah melakukan razia terhadap mobil biasa yang menggunakan rotator atau sirine, yang dilakukan pada November 2016 lalu. Namun, nampaknya masih banyak pemilik kendaraan yang belum jera dan masih nakal menggunakannya.

Kasubdit Gakkum Ditlantas PMJ, AKBP Budiyanto sebelumnya mengatakan, aksesori tersebut dilarang. Aturan hukumnya sudah tercantum dalam pasal 287 Undang-undang ayat (4), Undang-undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Lengkapnya, di dalam Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 59 dijelaskan, kendaraan yang diperbolehkan menggunakan isyarat lampu biru, yaitu kepolisian, merah untuk pemadam kebakaran dan ambulan, kuning untuk patroli jalan tol, pengawas sarana serta prasarana.

Bagi yang melanggar, menurut ketentuan pidana pasal 287 ayat 4, dapat dikenakan hukuman, yaitu kurungan selama satu bulan atau denda maksimal sebanyak Rp 250.000.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisGhulam Muhammad Nayazri
EditorAzwar Ferdian
Komentar

Terkini Lainnya

Aksi Pebalap di Final Honda Dream Cup 2017 (Foto)

Aksi Pebalap di Final Honda Dream Cup 2017 (Foto)

Feature
Ini Pelatih Baru Jorge Lorenzo Musim 2018

Ini Pelatih Baru Jorge Lorenzo Musim 2018

Sport
Suzuki Swift Menghilang

Suzuki Swift Menghilang

Feature
Daftar Jawara Honda Dream Cup 2017

Daftar Jawara Honda Dream Cup 2017

Sport
Sunday Test Drive Harus Sering Digelar

Sunday Test Drive Harus Sering Digelar

Feature
Honda CRF150L Inden Satu Bulan

Honda CRF150L Inden Satu Bulan

News
Suzuki Jualan Ciaz Sampai Stok Habis

Suzuki Jualan Ciaz Sampai Stok Habis

News
Ini Daftar Motor Terlaris di November 2017

Ini Daftar Motor Terlaris di November 2017

News
Pesanan Honda PCX 150 Mulai Menumpuk dari Jawa Timur

Pesanan Honda PCX 150 Mulai Menumpuk dari Jawa Timur

News
Restorasi Mercy G-Class Lawas, Butuh Puluhan Juta Rupiah

Restorasi Mercy G-Class Lawas, Butuh Puluhan Juta Rupiah

Modifikasi
Tunggu ”Revolusi” Pikap Carry Suzuki, Tak Lama Lagi

Tunggu ”Revolusi” Pikap Carry Suzuki, Tak Lama Lagi

Niaga
Fortuner Buatan Indonesia Laku Keras di Filipina dan Vietnam

Fortuner Buatan Indonesia Laku Keras di Filipina dan Vietnam

News
Ribuan Kendaraan Uji Emisi Gratis di Kemayoran

Ribuan Kendaraan Uji Emisi Gratis di Kemayoran

News
Jualan Motor Kembali Minus di November 2017

Jualan Motor Kembali Minus di November 2017

News
Toyota Jadi Produsen Hibrida Pertama di Indonesia?

Toyota Jadi Produsen Hibrida Pertama di Indonesia?

News
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM