Kelemahan Mercedes Semakin Kentara di GP Austria - Kompas.com
kolom

Kelemahan Mercedes Semakin Kentara di GP Austria

Radityo Wicaksono
Kompas.com - 10/07/2017, 13:14 WIB
Pebalap Mercedes, Valtteri Bottas (tengah), mengangkat trofi kemenangannya pada balapan GP Austria di Red Bull Ring, Spielberg, Austria, Minggu (9/7/2017).AFP/JOE KLAMAR Pebalap Mercedes, Valtteri Bottas (tengah), mengangkat trofi kemenangannya pada balapan GP Austria di Red Bull Ring, Spielberg, Austria, Minggu (9/7/2017).


Spielberg, KompasOtomotif
- Setelah balapan kontroversial di Baku dua minggu silam, Vettel dan Hamilton kembali bertarung sengit di Red Bull Ring, GP Austria, Minggu (9/7/2017). Kali ini, Sebastian Vettel yang mampu memaksimalkan hasil balapan, dengan finis di posisi kedua, dan memperoleh hasil lebih baik dari Hamilton. Pebalap Inggris ini kembali apes, dengan finis di posisi kelima.

Pebalap Mercedes asal Finlandia, Valtteri Bottas meraih kemenangan keduanya musim ini di Red Bull Ring, Austria. Memulai balap dari pole position, Bottas harus berjuang keras bisa juara, terutama akhir balapan. Sebastian Vettel juga terus memberikan tekanan yang luar biasa terhadap Bottas sampai melintasi garis finis.

Bottas sebenarnya melakukan start yang baik, bahkan ada yang curiga kalau dia melakukan jump start, dan berhasil menguasai awal balapan. Pada stint pertama, Bottas dan Vettel sama-sama menggunakan ban ultrasoft. Tetapi, kecepatan Bottas terlihat lebih baik dibandingkan Vettel. Sampai Vettel melakukan pitstop pertama, keunggulan Bottas mencapai 7,9 detik.

Pada stint kedua, kedua rival ini kembali memilih ban sama, supersoft. Tetapi, kali ini Sebastian Vettel terlihat jauh lebih nyaman ketimbang pilihan ban pertama. Saat Valtteri Bottas keluar dari pitlane, jarak antara kedua pebalap sekitar 4 detik. Perlahan tapi pasti, Vettel terus mengintai dan mulai memperkecil jarak hingga kurang dari 1 detik saat balapan tersisa beberapa lap lagi.

Vettel sebenarnya sudah menggunakan DRS untuk mendahului Valtteri Bottas. Namun, setelah berapa kali percobaan overtaking, termasuk sempat terhalang oleh Sergio Perez, Bottas berhasil menahan serangan dari Vettel untuk juara di GP Austria.

Pebalap Mercedes, Lewis Hamilton, tampil pada sesi latihan GP Austria di Sirkuit Red Bull Ring, Austria, Jumat (7/7/2017).AFP/JOE KLAMAR Pebalap Mercedes, Lewis Hamilton, tampil pada sesi latihan GP Austria di Sirkuit Red Bull Ring, Austria, Jumat (7/7/2017).

Performa Mercedes

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa performa Valtteri Bottas begitu kentara antara ban ultrasoft dan supersoft?

Suhu trek pada awal balapan adalah 46°C, tertinggi selama seri Austria berlangsung selama ini. Ban buatan Pirelli dikenal sensitif dengan suhu, sehingga setiap tipe hanya berfungsi dengan temperatur trek tertentu. Dengan suhu tersebut, sepertinya kondisi trek ini pas untuk ban ultrasoft, karena tercermin pada performa Valtteri Bottas yang lebih baik dibandingkan Vettel.

Pada paruh kedua balapan, suhu trek cenderung stabil, meskipun cuaca mulai mendung. Suhu trek yang masih relatif tinggi ini mulai menjadi masalah bagi Mercedes. Ban supersoft (yang lebih keras daripada ultrasoft) lebih sulit berfungsi optimal dalam situasi ini.

Buktinya, pada free practice, Jumat (7/7/2019), sudah terlihat ban bakal mengalami blisteringjika temperatur trek terlalu tinggi. Blistering terjadi ketika struktur ban mulai meleleh dan terkelupas karena suhu trek yang terlalu tinggi.

Jika Vettel performanya stabil, Bottas justru terlihat kesulitan untuk menjaga kondisi ban supersoft, karena terjadi fenomena blistering yang cukup parah pada stint kedua. Blistering yang parah bisa mengakibatkan ban pecah, seperti yang dialami Sebastian Vettel pada balapan sama musim lalu. Juga menciptakan vibration yang luar biasa terhadap mobil yang bisa merusak suspensi, seperti apa yang terjadi kepada Kimi Raikkonen di Nurburgring pada 2005.

Pengalaman serupa ternyata juga dialami Hamilton. Rekan satu tim Bottas ini melakukan pitstop di lap ke 31 dan menggunakan ban Ultrasoft hingga akhir balapan. Keputusannya menggunakan ban ultrasoft secara maksimal pada awal stint kedua, dilakukan untuk mendahului Kimi Raikkonen dengan undercut. Tapi, tak lama setelah ini terjadi, Hamilton mulai khawatir dengan kondisi ban yang sudah mulai blistering. Kondisi ini juga membuat Hamilton butuh waktu lama untuk bisa menyusul Daniel Ricciardo.

Sampai akhir balapan, Hamilton belum berhasil merebut posisi podium ke-3 dari sang pebalap Red Bull, setelah mencoba manuver overtaking di tikungan 4.

Pebalap Mercedes asal Finlandia, Valtteri Bottas (depan) sedang memacu mobilnya pada balapan GP Austria di Red Bull Ring, Spielberg, Austria, Minggu (9/7/2017)AFP/JOE KLAMAR Pebalap Mercedes asal Finlandia, Valtteri Bottas (depan) sedang memacu mobilnya pada balapan GP Austria di Red Bull Ring, Spielberg, Austria, Minggu (9/7/2017)

Kelemahan Mercedes

Kondisi ini menunjukkan salah satu kelemahan utama tim Mercedes musim ini. Memang dari segi kecepatan murni, tim Silver Arrowterbilang masih di atas Scuderia Ferrari. Buktinya, dari sesi kualifikasi sepanjang musim ini, Mercedes lebih sering meraih pole position dibandingkan Ferrari.

Mercedes mempunyai sistem engine mapping yang belum dikuasai oleh tim lain, sehingga pada sesi Q3, mereka mampu menggunakan mode mesin yang menghasilkan lebih banyak tenaga daripada rival-rival mereka.

Sedangkan, kelemahan tim Mercedes adalah sensitifitas mobil mereka terhadap kondisi trek. Kondisi ini berpengaruh besar terhadap kemampuan tim menjaga kondisi ban mereka saat balapan. Contohnya di balapan ini, Lewis Hamilton yang memulai balapan dengan ban supersoft, hanya mampu menyelesaikan 31 lap, karena sudah blistering cukup parah.

Kedua pebalap Mercedes juga merasa sulit untuk menemukan set up yang optimal untuk memaksimalkan mobil Mercedes W08 Hybrid ini, sehingga performa mereka sering sekali terlihat kurang konsisten.

EditorAgung Kurniawan
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM