Mengenal Varian “Redditch” Royal Enfield - Kompas.com

Mengenal Varian “Redditch” Royal Enfield

Ghulam Muhammad Nayazri
Kompas.com - 03/05/2017, 09:01 WIB
Otomania/Setyo Adi Royal Endfield di IIMS 2017. Classic 350 Redditch edition

Jakarta, KompasOtomotif – Merek asal Inggris yang kini dimiliki sekaligus produksi India ikut memeriahkan ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017. Model andalannya yang dipajang paling depan adalah varian baru dengan embel-embel Reddicth.

Penasaran menggali lebih dalam, pertanyaan seputar apa itu Redditch pun terlontar. Pasalnya, untuk motor yang berdiri di segmen khusus dan pehobi ini, menarik untuk sekedar mengetahui latar belakang produk, ketika memilikinya.

Kata Redditch sendiri diambil dari salah kota tempat lahirnya pabrik Royal Enfield pertama, di daerah Brimingham, Inggris pada tahun 1901. Aktivitas produksi di fasilitas RE yang ada di Redditch kemudian berhenti pada 1967.

“Pada 1901 di pabrik Redditch, Royal Enfield pertama kali memproduksi motor bermesin, di mana sebelumnya membuat sepeda dan lainnya. Karena itu, Redditch menjadi tempat ikonik, dan markasnya motor klasik Inggris, jadi itu latar belakangnya,” ujar Irwansyah Said Head-Sales and Marketing Royal Enfield Indonesia, Selasa (2/5/2017).

Otomania/Setyo Adi Logo Royal Endfield Redditch

Irwan melanjutkan, kalau penggunaan kembali Redditch, untuk mengembalikan lagi dan mengenang sejarah Royal Enfield. Varian “Reddicth” yang baru dikeluarkan kali ini, merupakan model RE Classic 350, dengan ubahan hanya pada varian warna dan penambahan logo  Redditch.

“Varian ini hadir dengan nuansa historikal yang kental, waluapun secara spesifikasi sama dengan Classic 350. Ini untuk menambah varian Classic-nya, di mana memiliki tiga warna pilihan, yakni Redditch Red, Blue, dan Green,” ucap Irwan.

Model ini dijual dengan harga Rp 72,9 juta OTR Jakarta, dan diklaim mampu menghasilkan tenaga sebesar 19,8 tk @5.250 rpm, serta torsi hingga 28 Nm @4.000 rpm. Membeli di IIMS 2017, pihak RE menawarkan voucher Rp 1 juta. 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisGhulam Muhammad Nayazri
EditorAgung Kurniawan
Komentar