Strategi Cemerlang Ferrari Bikin Vettel Juara di Bahrain - Kompas.com

Strategi Cemerlang Ferrari Bikin Vettel Juara di Bahrain

Radityo Wicaksono
Kompas.com - 17/04/2017, 13:25 WIB
KARIM SAHIB/AFP PHOTO Pebalap Ferrari asal Jerman, Sebastian Vettel (depan), memacu mobilnya di depan pebalap Mercedes asal Finlandia, pada balapan GP Bahrain di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir, Minggu (16/4/2017).


Bahrain, KompasOtomotif-
Seri ketiga Formula satu musim 2017 yang berlangsung di Sakhir, Bahrain, berhasil mempersembahkan balapan yang luar biasa. Pertarungan sangat sengit antara Bottas, Hamilton, dan Vettel tercipta, sampai akhirnya Ferrari juara berkat strategi canggih dan kecepatan mobil SF70-H.

Dengan hasil ini, Sebastian Vettel unggul 7 poin atas Lewis Hamilton di klasemen umum kejuaraan dunia Formula 1 musim 2017.

Pertarungan ketat antara Ferrari dan Mercedes kembali terjadi di sirkuit Sakhir, Bahrain. Perbedaan performa Mercedes dan Ferrari terlihat tipis dari free practice hari jum’at, dan pada sesi kualifikasi, Valtteri Bottas meraih pole position pertamanya di Formula 1. Catatan waktu pebalap pengganti Nico Rosberg ini 0.023 detik lebih cepat dari pada Lewis Hamilton. Sedangkan gap kepada Sebastian Vettel cukup besar, yaitu 0.478 detik.

Pada bagian awal balapan, kecepatan Mercedes, Ferrari dan Red Bull tidak berbeda jauh. Di akhir lap ke-9, jarak antara Bottas (posisi 1) dan Ricciardo (posisi 5) hanya 3.1 detik. Tidak lama setelah ini, Ferrari memutuskan untuk mengganti ban Vettel di lap ke-10. Inilah kunci awal dari kemenangan Vettel pada seri kali ini.

Meskipun adanya Safety Car tidak lama kemudian, dan Hamilton yang mengejar habis-habisan sang pebalap Ferrari pada pengujung balap, Vettel mampu mengontrol jalannya balapan hingga akhir, tanpa banyak kesulitan. Kunci kemenagan Vettel inilah yang akan kita kupas kali ini, karena ada juga beberapa hal yang harus dieksekusikan secara sempurna oleh Ferrari dan juga Sebastian Vettel.

Vettel melakukan start yang lebih baik dibandingkan Hamilton, dan merebut posisi kedua darinya pada putaran pertama. Semenjak momen tersebut, sang juara dunia 2010-2013 tidak membiarkan Valtteri Bottas memperbesar keunggulannya. Gap diantara kedua pebalap tersebut tidak pernah lebih dari 0.8 detik. Bottas memang diketahui mempunyai masalah dengan tekanan ban belakang yang terlalu tinggi (sekitar 2 psi terlalu tinggi), sehingga ban tersebut sangat mudah mengalami overheating, dan lantas kehilangan grip.

Namun, meskipun dibantu oleh masalah Bottas dan DRS (sistem pengurangan drag), Vettel tidak mampu mendahului pebalap Mercedes tersebut.

KARIM SAHIB/AFP PHOTO Pebalap Ferrari asal Jerman, Sebastian Vettel (depan), memacu mobilnya di depan pebalap Mercedes asal Finlandia, pada balapan GP Bahrain di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir, Minggu (16/4/2017).

Strategi Undercut Ferrari

Akhirnya, Ferrari memutuskan untuk mengganti ban Vettel guna melakukan undercut di lap ke-10. Intinya, undercut adalah teknik mendahului lawan melalui pitstop, dengan cara memanfaatkan ban baru yang lebih segar, sedangkan lawannya masih menggunakan ban lama yang kondisinya sudah buruk. Undercut dinyatakan berhasil ketika lawan berhasil didahului, setelah kedua pebalap melakukan pitstop.

Setelah melakukan pitstop, catatan waktu Vettel menjadi jauh lebih baik, seperti di lap ke-12: Vettel berhasil mencatatkan waktu, 1:34.597, sedangkan Bottas hanya, 1:37.216 (+2.619 detik).

Grafik di bawah ini menunjukkan jarak antara Vettel dan Bottas:

Di sirkuit Bahrein, satu pitstop membutuhkan waktu sekitar 25 detik. Sedangkan outlap-nya sendiri, Vettel sudah mengambil banyak waktu dari Bottas, sehingga walaupun Mercedes langsung merespons taktik undercut Ferrari di lap ke-11, itu juga sudah terlambat. Ketika Bottas akan keluar dari pitlane, sudah di belakang Vettel, karena jaraknya pada saat itu hanya 20.8 detik.

Strategi Ferrari ini hampir saja dikacaukan oleh safety car yang keluar di lap ke-13. Untungnya untuk Vettel, dia sudah mengambil sangat banyak waktu dalam jangka waktu 2 putaran dengan ban baru, sehingga ketika Bottas dan Hamilton mengganti ban pada saat periode safety car, kedua pebalap Mercedes keluar dari pitlane dibelakang Sebastian Vettel. Undercut adalah salah satu teknik mendahului yang sangat efektif, terutama ketika seorang pebalap kesulitan untuk mendahului di lintasan.

Strategi yang digunakan oleh Ferrari ini juga cukup berisiko. Mereka harus memastikan bahwa Vettel bisa memanfaatkan ban baru nya dengan sangat baik, agar undercut berfungsi. Artinya, Vettel tidak boleh terganggu oleh traffic, dan Ferrari memperhitungkan hal ini dengan sempurna. Di lap ke-10, terdapat jarak yang cukup besar antara Sergio Perez (Force India), dan Jolyon Palmer (Renault), yang mesing-masing menduduki posisi ke 13 dan 14.

Grafik ini menunjukkan jarak antara Vettel-Perez dan Vettel-Palmer.

Agar Vettel bisa memanfaatkan ban barunya secara maksimal, ia harus keluar dari pitlane didepan Jolyon Palmer, agar tidak terhambat lajunya. Untuk itu, pitstop dari tim harus sempurna. Dan itulah yang dilakukan oleh Scuderia Ferrari: pitstop Vettel hanya memakan waktu 24.7 detik (garis merah), dan Vettel keluar dari pitlane persis di depan Palmer.

crash.net Valtteri Bottas GP Bahrain

Kesalahan Lewis Hamilton

Mercedes tidak merespons taktik undercut Ferrari secara langsung. Setelah pitstop Vettel di lap ke-10, kedua pebalapnya kehilangan waktu yang cukup signifikan, karena kondisi ban yang sudah mulai memburuk. Namun, kehadiran safety car (SC) sepertinya dapat menyelamatkan balapan mereka.

Mercedes memanfaatkan SC untuk mengganti ban Bottas dan Hamilton sekaligus. Namun, karena Hamilton tidak ingin kehilangan banyak waktu menunggu saat ban rekannya diganti, dia memutuskan untuk memperlambat lajunya sebelum memasuki pitlane. Daniel Ricciardo (Red Bull), yang berada persis dibelakang Lewis, tidak dapat mendahuluinya karena adanya Safety Car, ia pun merasa dihalangi oleh Hamilton.

Para stewards mulai melakukan investigasi terhadap Lewis Hamilton, untuk alasan “ driving unnecessarily slowly”.Dengan adanya bukti video sangat jelas, sang juara dunia 2014-2015 dikenakan penalti waktu 5 detik. Penalti ini terbukti sangat krusial untuk hasil akhir balapan, karena jarak antara Vettel dan Hamilton pada akhir balapan hanya 6.6 detik!

Dengan kecepatan yang Lewis tunjukkan di bagian akhir balapan dengan ban Soft, dia bisa saja merebut kemenangan dari Vettel.

ANDREJ ISAKOVIC/AFP PHOTO Pebalap Ferrari asal Jerman, Sebastian Vettel, mencium trofi yang didapat setelah memenangi balapan GP Bahrain di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir, Minggu (16/4/2017).

Suhu buat Ferrari

Ferrari unggul atas Mercedes di Australia dan Bahrein, sedangkan Hamilton menang di China. Suhu udara saat balapan di Australia 24°C, dan di Bahrein 26°C, sedangkan saat balapan di China, suhu udara sangat rendah, yaitu sekitar 15°C. Hal ini menandakan bahwa mobil Mercedes sangat sensitif, terutama terhadap temperatur udara.

Di Bahrein, ban Valtteri Bottas mengalami overheating, sehingga performanya kurang maksimal, sedangkan Ferrari tidak mengalami masalah yang sama. Mari kita bandingkan catatan waktu Vettel dan Bottas dengan ban Supersoft antara lap 17 dan 29.

Dengan kondisi yang sama, dan ban yang sama, Bottas sama sekali tidak bisa menandingi catatan waktu Sebastian Vettel. Hamilton pun yang dibelakang Bottas, kesulitan untuk mendahului rekannya. Hal ini memperkecil kans Mercedes untuk memenangi balapan kali ini. Pada akhir balapan, ketika suhu udara menurun, performa Mercedes sedikit membaik. Ini dibuktikan oleh Hamilton yang mampu memperkecil keunggulan Vettel di putaran-putaran akhir. Namun sayangnya, Hamilton kehabisan waktu untuk bisa bertarung dengan Sebastian Vettel.

Untuk pertama kalinya setelah tiga musim, bisa dikatakan Mercedes sudah tidak lagi mendominasi Formula 1, dan inilah hal yang ditunggu-tunggu oleh para fans F1. Seri selanjutnya akan diadakan di sirkuit Sochi, Rusia. Sirkuit tersebut sangat berbeda dengan Bahrein, dengan banyaknya trek lurus yang panjang dan tikungan-tikungan 90 derajat, yang pasti akan membawa tantangan tersendiri bagi para pebalap dan juga tim.

EditorAgung Kurniawan
Komentar

Close Ads X