Kamis, 23 Maret 2017

Otomotif

Laporan Langsung dari Jepang

Instruktur "Safety Riding" Indonesia Masih Bisa Juara

Febri Ardani/KompasOtomotif Course slalom, salah satu ujian yang wajib dilewati para peserta Japan Safety Instructors Competition.

Berita Terkait

Suzuka, KompasOtomotif –Perlombaan instruktur safety riding  Honda tingkat dunia, Safety Japan Instructor Competition tahun ini resmi dibuka di Suzuka, Jepang, Kamis (20/10/2016). Pada hari pertama, tiga wakil Indonesia yang dibina Astra Honda Motor (AHM), mendapat hasil lumayan.

AHM ikut dalam tiga kelas yakni 125cc (Honda MSX/Groom) yang diikuti Dimas Satria Putra, 400cc (Honda CB400SF) oleh dan I Gusti Agung Budi Dharma, dan 750cc (Honda NC750L) oleh M Adi Sucipto. Secara keseluruhan, ketiga peserta asal Tanah Air masih berpeluang mendapat juara.

Pada hari pertama, ujian yang diberikan adalah braking dan course slalom. Lantas pada hari kedua atau terakhir, Jumat (21/10/2016), para peserta wajib melalui tes plank riding (keseimbangan).

Astra Honda Motor (AHM) Tiga instruktur asal Indonesia yang mewakili Astra Honda Motor (AHM) di ajang Safety Japan Instructors Competition 2016. Ketiganya yaitu, M. Adi Sucipto (kelas 750cc), I Gusti Agung Budi Dharma (kelas 400cc), dan Dimas Satria Putra (kelas 125cc).
Tes braking diibaratkan kasus pengereman mendadak saat sedang berkendara. Jarak tes 200 m, peserta harus melewati kecepatan 60 kpj, lalu mulai mengerem di batas yang telah ditentukan. Semakin pendek jarak berhenti berarti menang. Tes ini sulit sebab posisi berkendara tidak boleh berubah, kecepatan dipantau oleh dua sensor.

Ujian course slalom merupakan lomba ketangkasan yang memerlukan teknik akselerasi, pengereman, keseimbangan, berbelok, dan sikap aman. Kemampuan mengingat trek juga diperlukan sebab sirkuit buatan yang dibatasi cone ini selalu berubah setiap tahun. Peserta hanya diberi kesempatan dua kali mengelilingi sirkuit dengan berjalan kaki dan sekali pakai motor.

Plank riding adalah ujian keseimbangan berkendara motor di atas permukaan sempit sepanjang 12 m. Semakin lama peserta bisa bertahan di atas motor dibanding kontestan yang lain maka mendapat poin sempurna.

Berikut petikan masing-masing peserta, wakil dari Honda Indonesia:

M Adi Sucipto: “Sebenarnya saya sudah latihan mengenali motor jadi bisa beradaptasi walau tidak seperti yang lain punya kesempatan lebih banyak. Targetnya menghasilkan yang terbaik. Di braking saya mendapat jarak 17m, itu yang terbaik kedua. Slalom juga tercepat kedua, 1 menit 4 detik. Besok saya harus tampil ngotot karena skill yang lain jauh lebih baik. Saya enggak takut sama mereka, saya mau berusaha semaksimal mungkin”.

I Gusti Agung Budi Dharma: “Saya tetap optimistis karena waktu braking dapat jarak 17 m, itu yang terpendek poin saya penuh. Tetapi di course slalom saya kurang beruntung, ban saya selip waktu percobaan jadi dihitung pelanggaran, waktu saya sudah sempat tercatat saat lomba, 1 menit 3 detik, tetapi akhirnya penilaian tidak dihitung karena pelanggaran saat percobaan. Besok saya akan memaksimalkan apa yang dapat saat latihan. Saya masih bisa bertanding dan menang. Waktu saya juara pada 2012 itu juga lebih kurang karena ada faktor beruntung. Waktu itu empat kontestan jatuh. Saya mau tes sampai di mana batas maksimal saya”.

Dimas Satria Putra: “Saya merasa lebih tenang karena selama latihan di Jakarta motornya kan sama. Bedanya hanya di sirkuit dan aspalnya lebih keren. Tadi benar-benar push, sedikit grogi juga karena cone nya banyak banget. Selama latihan di Jepang, memang berat badan jadi pembeda, saya 85 kg, yang lain kurus-kurus. Catatan waktu di latihan course slalom beda 2 detik sama yang lain tetapi akhirnya cuma selisih sedikit waktu lomba, waktu saya 1 menit 4 detik di urutan kedua. Strategi besok persaingan berat sama Vietnam, harus bisa push lagi”. 

Penulis: Febri Ardani Saragih
Editor : Agung Kurniawan