Pemerintah Tak Bernyali Turunkan Pajak Sedan di Indonesia - Kompas.com

Pemerintah Tak Bernyali Turunkan Pajak Sedan di Indonesia

Aditya Maulana
Kompas.com - 26/05/2016, 09:05 WIB
Aditya Maulana, KompasOtomotif All New Honda Civic yang dipamerkan di Bangkok International Motor Show 2016.

Bandung, KompasOtomotif – Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk sedan terus diperbincangkan oleh para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mobil di Indonesia. Sebab, nilainya sangat tinggi, yakni sedan mini (1.500 cc ke bawah) 30 persen dan sedan kecil (di atas 1.500 cc) 40 persen.

PPnBM yang tinggi seperti itu, membuat para ATPM otomotif enggan memproduksi sedan di Indonesia. Sebab, tanpa harga kompetitif, sedan tidak akan dilirik oleh konsumen, sehingga risiko rugi menjadi lebih besar.

Baca juga: Mau Perluas Pasar, Turunkan PPnBM Sedan

Menurut Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM), pemerintah harus berani menurunkan pajak sedan. Sebab, setelah segmen city car, LMPV (low multi purpose vehicle/LMPV), dan Sport Utility Vehicle (SUV) diproduksi di Indonesia, giliran sedan yang harus menyusul.

“Kalau mau memperlebar industri, sedan salah satu jawabannya. Meski volume penjualan tidak sebesar LMPV, tetapi secara perlahan sedan ini bisa memberikan gairah. Tetapi ingat, pemerintah harus memberikan bantuan juga,” ujar Jonfis di Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/5/2016).

Saran Jonfis, pemerintah harus melakukan strategi khusus untuk mewujudkan semuanya ini. Waktu dan upayanya memang besar dan lama, tetapi jika sama-sama serius, bisa lebih cepat terealisasi.

Baca juga: Kemenkeu Masih Tanpa Kejelasan Soal PPnBM Sedan

Sebab, di sisi lain, sedan juga bisa menjadi jawaban atas keinginan pemerintah mendongkrak kinerja ekspor kendaraan bentuk utuh (completely built up/CBU) dari Indonesia. Pasalnya, sedan merupakan model mobil dengan pasar terbesar di dunia, saat ini.

“Seharusnya pajak sedan disamakan saja seperti segmen lain, jangan dibeda-bedakan karena semuanya memang sama. Kalau seperti yang sekarang ini, perbedaannya sangat jauh sekali, itu yang membuat harga sedan mahal dan masyarakat menjadi malas beli sedan,” kata Jonfis.

PenulisAditya Maulana
EditorAgung Kurniawan
Komentar
Close Ads X