Jumat, 24 Oktober 2014

Otomotif


”Curhat” Produsen Mobnas Sambil Tunggu Regulasi

Penulis: Donny Apriliananda | Senin, 24 Maret 2014 | 15:24 WIB
Dibaca:   Komentar:
|
Share:
  • Sumber : - | Author : Donny Apriliananda

    Tawon, salah satu mobil nasional yang saat ini masih diproduksi.

  • Sumber : - | Author : KompasOtomotif-Donny

    Mobil nasional Indonesia Komodo

Jakarta, KompasOtomotif – Di saat pemerintah mendorong investasi asing dan industri otomotif, ada satu hal yang mengganjal dan belum terpecahkan, yaitu mobil nasional (mobnas). Arus insiatif begitu kuat sejak beberapa tahun lalu, untuk melahirkan mobil-mobil dan merek buatan anak bangsa. Namun hingga kini nasibnya masih terkatung.

Jangankan bermimpi menjadi raksasa industri, bertahan di tengah gempuran merek asing saja sungguh sulit. Terlebih dengan hadirnya kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC). Produk yang mereka hasilkan memang belum sempurna dan masih butuh waktu untuk pengembangan. Tapi paling tidak sudah bisa jadi langkah awal membangun industri mobil berwawasan kemandirian.

Belum adanya kebijakan yang mendukung perkembangan mobil nasional adalah satu-satunya ganjalan untuk melangkah. Satu-persatu pelaku industri mobnas curhat. Ditemui di gelaran INAPA 2014 minggu lalu, Presiden Direktur PT Fin Komodo, Ibnu Susilo, mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu kebijakan yang mendukung.

”Keinginan kami simpel, ada kebijakan yang memihak ke industri mobnas atau produk Indonesia. Kalau ada, semuanya akan gampang. Ada peraturan atau kebijakan yang mendukung, atau menguntungkan untuk bertumbuhnya industri otomotif lokal. Investasi akan mengalir dengan sendirinya,” beber Ibnu.

PT. Super Gasindo Jaya (SGJ) yang dalam pameran memajang mobil merek Tawon, bernasib sama. CEO SGJ, Koentjoro Njoto, mengatakan bahwa saat ini pihaknya tetap memproduksi Tawon untuk kebutuhan mobil teknologi menengah. ”Kami masih menargetkan produksi sampai 3.000-an unit setahun sambil berharap dukungan nyata pemerintah terhadap pengembangan mobnas,”urainya.

Harapan lain juga masih ada di pundak PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) yang memproduksi ESEMKA berbagai tipe. Merek ini sempat melejit saat Wali Kota Solo, Joko Widodo, (saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI), menggunakannya sebagai kendaran dinas.

Mahal
Dihubungi terpisah, AZ Dalie, Sales & Marketing Division Head PT Triangle Motorindo Industry, produsen sepeda motor Viar, mengungkap kepada KompasOtomotif bahwa rencana membangun mobil bergenre micro car yang sudah direncanakan dua tahun lalu terpaksa ditunda. Hal ini berkaitan dengan harga bahan baku yang cukup mahal dan dikhawatirkan gagal bersaing dengan merek-merek ternama.

”Kami melihat belum ada kejelasan regulasi. Di level bawah seperti kami tidak disokong kebijakan infrastruktur yang jelas. Kalau tidak ditopang dengan kebijakan khusus tidak akan bisa berkembang, karena akan tertimpa kekuatan merek asing,” beber Dalie.

Ditambahkan, bahan baku untuk mengembangkan industri mobil saat ini masih mahal. Justru dengan mengimpor malah lebih murah. Dulu sempat diisukan bakal ada subsidi, tapi belum juga terlaksana. ”Kalau bahan baku saja belum beres, kami tidak bisa berinvestasi untuk hal-hal lainnya. Soal ini, investor sudah menunggu,” jelas Dalie.

Sama seperti produsen-produsen lokal lain, saat ini pengembangan dan riset tetap dilakukan. Namun untuk memproduksi secara massal belum berani. Alasannya, secara harga akan sangat susah bersaing dengan produk asing yang sudah menikmati subsidi.

2 Triliun
Bagaimana produsen mobil nasional tidak ciut, Menteri Perindustrian MS Hidayat dalam kesempatan tahun lalu pernah mengungkap, bahwa untuk menciptakan industri merek mobil nasional dibutuhkan dana setidaknya Rp 2 triliun dan harus ada investor lokal sebagai penanam modal.

Dana tersebut akan dipakai untuk pembelian lahan, pengadaan mesin, teknologi, dan modal kerja. Belum termasuk pengembangan jaringan pemasaran dan layanan purna jual. ”Untuk menjadi sebuah industri yang komersil dan feasible, umumnya mobil tersebut harus mencapai sekitar 40.000 unit per tahun,” ujar MS Hidayat saat itu.

Namun sayang, yang dilakukan pemerintah saat ini, hanya sebatas mendukung inisiatif merek-merek mobil nasional untuk tampil dan berkembang. Dukungan itu meliputi promosi dan pemasaran, memfasilitasi pencarian investor, ujicoba prototipe, hingga peningkatan kemampuan industri komponen. Sementara kebijakan yang mendukung masih dalam ranah abu-abu.

Tentu, mimpi yang saat ini harus diperjuangkan adalah Indonesia memiliki merek kebanggaan sendiri. Merupakan karya dari tangan-tangan terampil dan otak cerdas orang Indonesia, yang seharusnya tidak kalah dengan bangsa lain. Perjalanan panjang itu pun rasanya masih akan berlanjut, entah sampai kapan.


Editor : Aris F. Harvenda