Kamis, 2 Oktober 2014

Otomotif


Mayoritas Truk di Indonesia "Overload"

Penulis: Agung Kurniawan | Selasa, 16 April 2013 | 09:05 WIB
Dibaca:   Komentar:
|
Share:
Sumber : KompasOtomotif | Author : Agung Kurniawan

Truk ringan kapasitas angkutnya biasanya "dipaksa" untuk menampung lebih berat dari standar.

Sukabumi, KompasOtomotif -  Jalan yang sering rusak - kendati sudah diperbaiki - khusus di daerah pelabuhan dan jalur Pantai Utara Pulau Jawa, penyebab utama, truk-truk besar yang membopong beban secara berlebihan (overload) atau melewati batas maksimal.  Hal tersebut dikemukakan oleh Catur Satria Wira, Product and Planning Division PT Hino Motors Sales Indonesia, akhir pekan lalu.

"Hampir semua truk yang ada di Indonesia membawa muatan melebihi kemampuan yang direkomendasikan produsen. Tujuannya, untuk meraih  keuntungan lebih banyak," komentar Catur. 

Dijelaskan, untuk truk ringan (kategori II), rata-rata daya angkutnya di bawah 8 ton. Semua sudah termasuk bobot, muatan, bahan bakar, pengendara dan kernet yang mengemudikan truk. "Di Indonesia, malah bisa menjadi 14 ton. Minimal 9, 10 atau 11 ton," lanjut Catur.

Perilaku menyimpang ini sulit dikendalikan kecuali selalu diawasi oleh aparat yang lebih tegas dilapangan. Produsen selalu menghimbau konsumen truk untuk tidak menggunakannya secara berlebihan. "Pengusaha tidak mau rugi," beber Catur.

Salah satu kunci utama untuk bisa menangani penyimpangan ini adalah penegakkan hukum yang tegas di lapangan. Salah satunya, perbaikan metode Pengujian Kendaraan Bermotor (KIR) untuk memenuhan persyaratan teknis dan laik jalan oleh Dinas Pendapatan Daerah dan Dinas Perhubungan setiap provinsi.

"Permainan di kir sudah menjadi rahasia umum. Semua kendaraan yang dikir pasti lolos," tutup Catur.
 


Editor : Zulkifli BJ