Sabtu, 29 November 2014

Otomotif


Merasakan Kegesitan Mitsubishi Outlander Sport

Jumat, 13 Juli 2012 | 10:16 WIB
Dibaca:   Komentar:
|
Share:
  • Sumber : KompasOtomotif | Author : Zulkifli BJ

    Di jalan tol

  • Sumber : KompasOtomotif | Author : Zulkifli BJ

    Dikebut oleh Subhan Aksa

  • Sumber : KompasOtomotif | Author : Zulkifli BJ

    Wartawan menguji di jembatan dan gundukan (membuktikan sudut approach dan departure)

  • Sumber : KTB dab BMW AG | Author : -

    Belakang Oultander Sport (kiri) dibnadingkan dengan BMW X1 (kanan)

Jakarta, KompasOtomotif – Mitsubishi memberikan kesempatan sebentar kepada wartawan untuk mencoba mengemudikan dan menjadi penumpang SUV kompak terbarunya yang dirakit yang di Indonesia, Outlander Sport. Dari Jakarta sampai Pusat Pelatihan Multifungsi Polri di Cikeas, Bogor, 60 km, wartawan harus menggemudikan bergantian tiga kali. Maklum, setiap mobil diisi tiga wartawan dan satu pendamping wanita.

Mitsubishi menggerahkan semua tipe Outlander yang dipasarkannya, yaitu PX (top), GKLS dan GLX (transmisi manual atau entry level). Kesan pertama, saat berada di jok pengemudi, terasa mewah karena jok berlapis kulit dan nyaman diduduki. Hanya untuk menyetel jok dan sandaran harus dilakukan secara manual. KompasOtomotif mendapat kesempatan mencoba GLS menggunakan transmisi otomatik.
 
Posisi duduk sembari memegang setir mantap dan menyenangkan. Pandangan ke depan terasa luas. Begitu tongkat transmisi berada di “D” dan gas ditekan, SUV berjalan lembut dan mulus. Ketika pedal gas ditekan lebih dalam, Outulander Sport berkurang mulus.Tidak dirasakan pergantian gigi seperti transmisi otomatik lain. Maklum, CVT  adalah transmisi “stepless”, pergantian gigi tidak langsung terjadi secara bertingkat, tetapi progresif. Hanya, terasa kurang agresif! Saat di jok belakang. Cukup lebar dan nyaman. Karena perjalanan jalan mulus, tidak sempat dirasakan bantingan ekstrim.
 
Bersama pereli
Berikut adalah menjadi penumpang depan, ketika Otulander Sport dikebut dan diajak bermanuver oleh Rifat Sungkar. Tipe yang digunakan untuk ini adalah Outlander dengan transmisi manual (GLX) Maklum, hanya tipe yang bisa diperlakukan seperti mobil reli, pedal gas dan rem bisa ditekan secara bersamaan.
 
Ditangan Rifat, Outlander Sport ini  diajak bermanuver dengan mudah, khususnya untuk berbelok melalui pengoperasian rem tangan sembari memutar setir (sliding). Di sini, tidak hanya kegesitan mesin, juga kemantapan kinerja rem dibuktikan. Maklum, saat berada di puncak tikunngan, mobil harus direm kaki, rem tangan. Selama itu, Rifat hanya menempatkan tongkat transmisi pada gigi 1 dan 2.
 
Karena yang mengemudikan adalah pereli, sebagai penumpang, tingkat keyakinan sangat tinggi saat Rifat melakukan manuver, khusus pada titik pada tikungan. “Kendati SUV, namun tetap bisa diajak bermanuver. Ini membuktikan Outlander ini terbukti lincah. Juga nyaman. Hanya tentu saja tidak seperti sedan,” jelas Rifat.
 
Setir ringan
Selanjutnya, wartawan diberi kesempatan mengemudikan langsung pada berbagai kondisi, termasuk simulasi atau off-road buatan. Antara lain, mengitari bundaran dengan diameter 6 meter, tikungan patah, ketinggian sisi  jalan yang tidak merata, naik- turun  jembatan sekliagus tanjakan dan turun (mengukur sudut datang dan pergi atau approach dan departure angle). Juga ada beberapa bagian permukaan jalan yang diberi pasir.
 
Hal yang sangat dirasakan, setir sangat ringan dan mudah dikendali (mengunakan power steering listrik). Hanya, pada tikungan patah, untuk kembali ke kondisi semula, pengemudi agak repot atau harus cepat memutar lebih banyak. Ya, Mitsubishi belum menggunakan variable steering ratio.
 
Untuk versi manual, tenaga terasa lebih mantap saat start pertama kali. Begitu juga pada gigi 3 dan 3. KompasOtomotif tidak sempat mencoba lebih lanjut, karena saat kembali ke Jakarta, wartawan naik bis.
 
Itulah kesan yang diperoleh dari tes singkat Outlander. Kualitas suara untuk audio tidak sempat dicoba. Sementara beberapa rekan lain menginformasikan, konsumsi bahan bakar berdasarkan pantauan komputer mobil (juga speedometer mobil) 13 liter/100 km atau 7,7  km/liter.  
 
KompasOtomotif sempat membahas kapasitas bagasi dengan rekan Gomgom dari Autocar. Menurutnya, bila penumpangnya penuh, koper berukuran besar agak susah dimuat (bila melakukan perjalanan selama dua minggu), di bagasi. Penyebabnya, struktur desain bagian belakang yang miring yang membatasi penumpukan koper berukuran besar.
 
Lainnya, dari belakang, SUV kompak ini yang gagah ini, mengingatkan kita kepada BMW X1.  

Editor : Zulkifli BJ