Sabtu, 1 November 2014

Otomotif


Kebersihan Lingkungan

Warga DKI Didorong Membuat Bank Sampah

Penulis: M Clara Wresti | Senin, 18 Juni 2012 | 18:57 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Upaya mengatasi persoalan sampah di ibu kota menuntut keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. Salah satu cara agar masyarakat bisa berpartisipasi adalah dengan membuat bank sampah di lingkungannya dan aktif sebagai anggotanya.

Dengan bank sampah, masyarakat melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah, dan mendayagunakan sampah yang masih mempunyai nilai manfaat.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, selain membangun berbagai fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi modern, Pemprov DKI Jakarta juga giat mengembangkan pengolahan sampah di sumber melalui kegiatan 3R (reduce, reuse, dan recycle). "Hal ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah," kata Fauzi, Senin (18/6/2012) di Jakarta.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna mengatakan, pengolahan sampah secanggih apapun di tempat pengolahan akhir (TPA) akan berkurang efektivitasnya jika sampah tidak dikelola sejak dari sumber. "Dengan adanya bank sampah, dan warga melakukan pemilahan, maka TPA akan efektif," kata Eko.

Saat ini di Jakarta sudah ada sekitar 300 bank sampah. Idealnya bank sampah ini terdapat di setiap RW dan kelurahan. Jadi jika di Jakarta ada 2.000 RW, maka harus ada 2.000 bank sampah.

Fauzi menjelaskan, salah satu skema kegiatan 3R yang efektif adalah Bank Sampah. "Masyarakat di kelurahan akan diberi insentif dalam bentuk dana bergulir. Ke depan, per kelurahan di Jakarta ditargetkan memiliki satu unit Bank Sampah," ujarnya.

Bank Sampah merupakan salah satu kegiatan 3R untuk memanfaatkan nilai ekonomis sampah dengan menerapkan mekanisme perbankan secara sederhana. Hal ini dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.

Caranya, masyarakat secara swadaya menyetor sampah terpilah ke Bank Sampah. Selanjutnya, sampah tersebut ditimbang dan dinilai ke rupiah. Meniru sistem bank, uang tersebut tidak langsung dibayarkan, akan tetapi dicatat ke dalam buku Tabungan Bank Sampah milik nasabah.

Bank Sampah yang cukup sukses di antaranya di RW 03 Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Bank Sampah yang di ketuai oleh Ibu Ninik Nuryanto ini diberi nama Tabung Sampah Kering (Tasake).

Tasake merupakan Bank Sampah Pionir di Indonesia dan menjadi contoh penerapan bank sampah di berbagai daerah. "Surabaya dan Makassar pernah belajar di tempah kami," ujar Ninik.

Menurut Ninik, semuanya bisa berajalan karena partisipasi aktif warga di kawasan tersebut. "Tidak hanya warga yang punya partisipasi cukup tinggi tetapi aparat pemerintah setempat juga cukup tanggap dengan keinginan warga," katanya.


Editor : Nasru Alam Aziz