Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |    Register   |  

Sepeda Motor Tak bisa Diganti Mobil

Bastian | Jumat, 24 Februari 2012 | 21:01 WIB
Dibaca:   Komentar:
|
Share:
Sumber : Motor plus | Author : -

Penyumbang terbesar polusi udara

Jakarta, KompasOtomotif - Sampai 2025, pasar sepeda motor di Indonesia tetap tumbuh. Bahkan pada 2013, pasarnya diprediksi masuk dalam club 10 juta unit dan mempunyai arti penting, karena berada dalam posisi tiga besar dunia setelah China dan India. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata dalam seminar "Kesiapan Industri Sepeda Motor Indonesia Menuju Standar Euro-3", di Garda Oto, Jakarta Selatan (23/2).

Bahkan Gunadi menegaskan bahwa kendaraan roda dua tak akan bisa diganti oleh mobil karena beberapa aspek. Di antaranya, sampai kini motor masih menjadi transportasi yang praktis, cepat dan ekonomis.Selama kemacetan belum bisa diatasi dengan baik. Kemudian, kredit macet bisa ditekan jadi 1,27 persen lantaran sistem pembayaran yang dipermudah, di antaranya bisa melalui telepon seluler.

Sementara Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH MR Karliansyah, dalam sambutannya mengatakan pertumbuhan kendaraan yang mencapai 12 persen per tahun dengan komposisi terbesar roda dua sampai 73 persen, tak cuma menimbulkan masalah kemacetan, juga kebisingan dan polusi udara. Untuk yang terakhir ini, katanya, sektor transportasi diperkirakan menyumbang 76 persen dari total emisi pencemar oksida nitrogen. Sedang emisi hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO) justru menjadi kontributor utama (lebih dari 90 persen).

Dari hasil studi KLH dengan BTMP dan JARI tahun lalu terkait studi penentuan faktor emisi kota Jakarta menunjukkan volume sepeda motor pada hari kerja mencapai 39,4 persen dan hari libur 28,8 persen.

Mengenai sepeda motor berstandar Euro-3,  Karliansyah mengatakan sejak tahun lalu KLH sudah menyusun draft peraturan menteri LH tentang baku mutu emisi gas buang sepeda motor Euro 3. Dengan pemberlakukan 2 tahun, diperkirakan 2012 ini segera finalisasi dan bisa diumumkan.

"Ada 4 keuntungan didapat dengan standar Euro3. Di antaranya, produk kita bisa bersaing dengan Eropa dan terbuka peluang ekspor. Kemudian membuka peluang baru, investasi baru, dan tenaga kerja baru," ungkapnya.

Meski regulasi soal standar Euro-3 masih dinantikan, nyatanya para produsen sepeda motor sudah mempersiapkan diri. Seperti Yamaha sudah mempersiapkan produk-produknya dengan pengaplikasian mesin injeksi pada V-ixion sejak 2007. Terakhir Mio J yang barui diluncurkan sudah mengusung teknologi YMJET-FI (Yamaha Mixture Jet Fuel-Injection), yang tak cuma menghasilkan efisiensi bahan bakar, tapi emisi gas buang pun rendah.

"Yamaha Indonesia dapat mengaplikasikan standar Euro3 pada motor-motornya sesuai aplikasi motor-motor Yamaha Thailand yang sudah lebih dulu menerapkannya. Tinggal menggantikan knalpot untuk memenuhi itu," sebut Asisten GM Service Yamaha Indonesia  M.Abidin.

Honda pun tak kalah siap. Sejak 2005, seperti disampaikan Subhan, Service Publication Dept Technical Service Division Astra Honda Motor, Honda telah memperkenalkan teknologi fuel-injection (FI) melalui model Supra X 125 PGM-FI. Meski baru November 2011 dideklarasikan, tapi hingga 2013 (secara bertahap), semua produk Honda sudah menggunakan teknologi tersebut.

Seminar diselenggarakan oleh Forum Wartawan Otomotif (Forwot) bekerja sama dengan AISI dan Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) dengan panelis di antaranya Ir. Budi Darmadi, Dirjen Industri Unggulan berbasis Teknologi Tinggi dari Kemenperin, Ir Wiriatmoko, Asisten Pembangunan & LH DKI Jakarta, Gunadi Sindhuwinata (AISI), Pertamina dan IATO. Sedang pesertanya dari komunitas/klub roda dua, jurnalis, perwakilan dari Yamaha, Honda, dan produsen sepeda motor lainnya.

SPBU
Lokasi
  + index
Bengkel
Lokasi
  + index

© 2008 - 2012 KOMPAS.COM - All Rights Reserved