Sabtu, 25 Oktober 2014

Otomotif


Kia All-New Rio, Indikator Kualitas Baru Korea (Bagian 2)

Penulis: Aris F. Harvenda | Rabu, 30 November 2011 | 19:17 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : Kompas.com/AFH

    Jalan menanjak salah satu cara menguji performa mesin

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/AFH

    Tampak belakang dan detail beberapa komponen baru

Mesin
Setelah mendapatkan posisi sempurna mengemudi, mesin langsung diaktifkan. Ada perbedaan yang terasa saat mobil mulai menyusuri jalan ibukota menuju Bogor. Ciri mobil Korea terasa mulai sirna seperti getaran mesin yang sudah mulai halus dan juga suara desingan angin saat melintas di jalan tol. Suasana kabin terasa cukup senyap sehingga lantunan musik dapat dinikmati dengan baik.

Performa mesin Gamma 1.4 liter 4-silinder DOHC dengan teknologi katup CCVT  mampu memberikan respon putaran bawah (rendah) dan sigap menanggapi pijakan pedal. Ketika masuk tol Jagorawi, kecepatan bisa naik dengan cepat dari mesin yang menghasilkan tenaga maksimal 107 PS.

Untuk mendapatkan akselerasi dengan waktu tercepat, paling pas dengan mengandalkan transmisi pada posisi D dibanding menggunakan teknologi sekuensialnya yang disebut KIA "triptonic". Terjadi keterlambatan perpindahan gigi dibandingkan dengan posisi “D”   yang berpindah secara otomatis.

Setela mesin, berikutnya  Eco mode dijajal yang diklaim mampu memberikan efisiensi bahan bakar saat berkendara. Fitur tersebut aktif jika pedal gas ditekan sekitar 20% atau pada saagt mesin bekerja di bawah 2.000 rpm.

Indikator Eco akan menyala sebagai tanda bahwa mobil dikemudikan dengan kondisi irit bahan bakar. Tercatat, selama perjalanan dari gerbang tol Bogor menuju lokasi hotel di Ciapus, sejauh 15 km, MID mencatat rata-rata konsumsi bensin mencapai 10,6 km/liter.

Angka tersebut merupakan hasil perjalanan dengan kecepatan rata-rata 17 km/jam. Maklum kota Bogor dikenal sebagai "Kota Sejuta Angkot". Kondisi tersebut cukup untuk mewakili kondisi jalan ibukota yang macet, termasuk jalan menanjak dan menurun.

Kenyamanan
Selain kemacetan, rute Empang – jalanan Ciapus  termasuk sempit dan bisa dilewati 2 mobil secara berdampingan. Jalan berlubang juga kerap ditemui. Hasilnya, dengan 4 penumpang, ayunan suspensi yang dihasilkan termasuk mantap dan agak keras meski melaju pada kecepatan 30 km/jam.

Kendati begitu stabilitas yang dihasilkan terbilang baik. Liukan bodi belakang dapat mudah dikendalikan. Begitu pula saat menikung pada kecepatan 40 km/jam saat kondisi menanjak. Tak kalah penting, penumpang belakang masih merasakan kenyamanan dan tidak mual saat mobil dipaksa bermanuver cepat.

 


Editor : Zulkifli BJ