Selasa, 23 Desember 2014

Otomotif


Dampak Teknologi Mesin Baru Captiva Diesel

Penulis: Aris F. Harvenda | Kamis, 17 November 2011 | 10:12 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : istimewa

    Captiva saat manuver di lintasan basah

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/AFH

    Komponen yang mengalami perubahan

  • Sumber : - | Author : istimewa

    Stabilitas masih cukup baik untuk melakukan manuver

  • Sumber : - | Author : istimewa

    Akselerasi spontan dan diakhiri pengujian rem.

BEKASI, KOMPAS.com - Diluncurkannya model baru Chevrolet Captiva Diesel di proving ground milik perusahaan ban di Kerawang, Jawa Barat, kemarin (16/11), juga dibarengi dengan tes singkat buat wartawan. Kompas.com ikut menjajal SUV yang membawa sederet perubahan besar, utamanya pada sektor penyuplai tenaga.

Di balik bonet terpampang mesin yang sudah mengusung teknologi DOHC (sebelumnya masih SOHC). Meski kapasitasa mesin masih sama 2.0L, namun diameter piston lebih besar, dan rasio kompresi turun dari 17,5 menjadi 16,5. Penggerak noken as yang sedianya memakai timing belt berubah jadi timing chain (rantai) dengan alasan perawatan mudah dan tahan lama. Konstruksi posisinya pun ikut berubah seperti letak turbo yang pindah dari belakang ke depan (dekat radiator), intake dan exhaust yang bertukar tempat.

Tidak hanya sebatas perubahan komponen dan re-posisi, New Captiva Diesel juga disesaki beragam barang baru seperti variabel swirl yang berfungsi mengatur udara di lubang masuk (intake), High-efficiency Exhaust Gas Recirculation yang bertugas memotong jalur gas buang untuk kembali di bakar sehingga mampu menekan kadar emisi. Selain itu, guna meminimalisasi getaran pada mesin di pasang juga sebuah peredam NVH (Noise Vibration and Harshness).

Hasil dari semua perubahan tersebut, performa pun yang semula 150 PS meningkat jadi 163 PS dan torsi dari 320 Nm jadi 360 Nm. Bahkan torsi maksimal yang sebelumnya berada di 2.000 rpm kini bisa didapat pada rentang 1.750 - 2.750 rpm. Ini sangat membantu efisiensi bahan bakar dan akselerasi lebih dini.

Ketika dijajal, saat pedal gas diinjak penuh untuk berakselerasi, mobil langsung merespon dengan baik. Tubuh agak tertarik ke belakang sebagai efek hempasan tenaga yang cukup baik. Rentang torsi maksimal dapat terasa ketika melakukan tikungan tak terlalu tajam dan slalom. Saat butuh tenaga lebih, cukup menekan sedikit, mobil langsung melejit sesuai kebutuhan.

Kinerja mesin yang sudah cukup optimal ini juga ditunjang dengan pemindah tenaga yang sesuai. Transmisi otomatis 6 percepatan dengan teknologi tiptronic mampu memberikan jeda perpindahan gigi yang tidak lama dan halus tanpa hentakan kendati pedal gas kita tekan hingga mentok.

Sayangnya, performa ini hanya bisa didapat jika pasokan bahan bakar yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mesin, seperti solar dengan kadar sulfur di bawah 500 ppm. Bahan bakar tersebut baru dapat dipenuhi oleh Pertamina DEX dan memiliki harga jual yang cukup merogoh kocek. Sedangkan bahan bakar lain masih berada di kisaran 800 hingga 1.300 ppm.

 


Editor : Bastian