Senin, 22 September 2014

Otomotif


"SuperSic" Meninggal di Depan Mata Orangtua dan Kekasih

Penulis: | Senin, 24 Oktober 2011 | 14:08 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : AFP/ROSLAN RAHMAN/RUBEN YAP/KOMPAS.COM

    Ayah Simoncelli, Paolo (kanan) shock mengetahui putranya meninggal

  • Sumber : - | Author : AFP/MOHD. RASFAN

    Sang kekasih Kate menangis menyaksikan Simoncelli tergeletak di lintasan

  • Sumber : - | Author : AFP/SAEED KHAN

    Ibunda Simoncelli, Rossella (kiri) berusaha menghibur diri saat menunggu putranya di pusat medis

MALAYSIA, KOMPAS.com — Dunia MotoGP sedang berduka kehilangan calon bintang masa depan Marco Simoncelli yang meninggalkan dunia akibat kecelakaan maut pada lap ke-2 saat mengikuti MotoGP Malaysia, Minggu (23/10). Nyawa pria kelahiran 20 Januari 1987 di Cattolica, Italia, itu tidak tertolong akibat luka serius yang dialami di bagian kepala, dada, dan leher.

Terlepas dari pro dan kontra dengan gaya membalapnya, ia merupakan sosok yang mampu menghidupkan suasana lomba dan membuat ratusan juta pasang mata di dunia menatap ke arahnya saat berlomba. Termasuk di Sirkuit Sepang, kemarin, saat pebalap tim Yamaha Factory, Jorge Lorenzo dan Ben Spies, absen, para penggemar MotoGP berharap ia bisa mengimbangi pebalap pabrikan Honda.

Ternyata, Tuhan berkehendak lain. Tragisnya, kecelakaan maut menimpa "SuperSic", disaksikan kedua orangtuanya, Paolo dan Rossella, dan kekasihnya, Kate. Mereka dengan ngeri menyaksikan motor Simoncelli berantakan. Mereka menangis ketika tahu sang putra dibawa ke pusat medis.

"Saya bersama ayahnya dan semua pihak keluarga tak bisa berbuat sesuatu. Yang bisa kita lakukan hanya memeluk. Tak ada yang lain lagi," ungkap Dani Pedrosa yang sempat terjatuh karena agresivitas balap "SuperSic". Dalam sebuah tragedi seperti ini, lanjut Dani kepada Dailymail, tidak banyak yang bisa dibicarakan selain ikut berbelasungkawa kepada keluarga dan semua orang yang mencintainya.

Kekasih Simoncelli, Kate, tampak pucat pasi saat berjalan menuju garasi MotoGP. Sementara itu, sang ibunda, Rossella, dan ayah, Paolo, coba menghibur diri di luar pusat medis, meski hati mereka galau. Akhirnya hati mereka hancur begitu mendapat kabar, nyawa sang putra tercinta tak tertolong dan dinyatakan meninggal pada pukul 16.56 waktu Malaysia.


Editor : Bastian