Kamis, 24 April 2014

Otomotif


Perahu Terbalik di Bengawan Solo

Korban Tewas Itu Sempat Memberi 'Tanda'

Penulis: Adi Sucipto | Kamis, 05 Mei 2011 | 10:05 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : SHUTTERSTOCK

Ilustrasi

BOJONEGORO, KOMPAS.com - Kecelakaan perahu terbalik yang terjadi Senin lalu di Bengawan Solo Bojonegoro meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga para korban. Salah satu yang paling terluka adalah Abdul Rokhim.

Rokhim adalah ayah dari Nurul Wijayanti yang telah ditemukan tak bernyawa pascakejadian tersebut. Duka demikian membekas di hati sang ayah, karena menjelang ajalnya, Nurul seperti telah memberikan tanda kepadanya.

Rokhim bercerita, pada malam sebelum kejadiaan naas tersebut, putrinya sempat berperilaku aneh. Salah satunya adalah saat Nurul menikmati kacang tanah. Selama ini, Nurul menolak makan kacang karena takut jerawatan. Tapi pada Minggu malam Nurul mau makan kacang tanah hasil panenan sendiri, yang direbus ibunya.

"Saat itu Nurul mengatakan dia makan kacang terakhir kali, karena setelah itu tidak akan makan kacang lagi. Ternyata itu isyarat dia akan pergi selamanya," tutur Rokhim, Kamis (5/5/2011).

Tidak itu saja, Rokhim pun mengaku sempat mendapati anaknya terlihat gelisah dan sulit tidur. Sampai akhirnya, ia tertidur dengan buku menutup wajahnya.  Paginya, Nurul tidak sempat pamit, karena Rokhim langsung ke ladang.

Saat di ladang, dekat Bengawan Solo, Rokhim mendengar jerit minta tolong. Dia pun tergopoh-gopoh menuju tambangan, dan bertanya apa anaknya ikut perahu yang tenggelam.

Begitu diketahui anaknya ikut perahu yang terbalik, dia menceburkan diri ke Bengawan Solo dan berenang untuk menyelamatkan anaknya. Tapi Rokhim malah terseret arus sampai tiba di seberang sungai di Dusun Sale Desa Sukoharjo Kecamatan Kalitidu, tanpa berhasil menyelamatkan Nurul.

Pencarian korban kecelakaan perahu terbalik di Bengawan Solo, Bojonegoro pada Senin lalu, hingga hari ini belum tuntas. Masih ada empat korban yang belum ditemukan.  Mereka adalah Yhana Octaviani (15), Fety May Nurhidayah (15) keduanya siswa MTsN1 Bojonegoro, Sri Parti (17) siswa SMKN 1 Bojonegoro dan Aris Ketut Arisanto (30).

 


Editor : Glori K. Wadrianto