Kamis, 30 Oktober 2014

Otomotif


Isuzu Bison Lebih Mahal dari Mitsubishi L300

Penulis: Zulkifli BJ | Rabu, 05 Mei 2010 | 18:07 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Isuzu Bison diluncurkan di Permata Sentul, Bogor, Jawa Barat. Dari kiri: Ary Mariano, Yohannes Nangoi, Hajime Koso, Edy J. Oekasah

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Bison telah dijadikan bus

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Bison dan L300, dari luar sama saja!

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Interior Bison sama dengan L300

SENTUL, KOMPAS.com — Bison, pikap tanpa hidung yang diluncurkan Isuzu pada Rabu (5/5/2010), mempunyai harga yang sedikit lebih mahal dibanding Mitsubishi Colt L300. Saat temu media, Yohannes Nangoi selaku Presdir PT Isuzu Astra Motor Indonesia menjelaskan bahwa harga jual Bison yang terdiri dari tiga varian, standard, flatbed, dan sasis bus, masing-masing Rp 139 juta, Rp 139,5 juta, dan Rp 138,5 juta (off-road).

Sementara itu, kompetitor terdekatnya, Colt L300, dilepas oleh Mitsubishi dengan harga (off-road), standard Rp 129,5 juta, flat bed Rp 130 juta, dan sasis Rp 127,5 juta. Kompensasi atas harga tersebut adalah konsumsi bahan bakar yang lebih irit dan tenaga lebih besar. 

Lebih mahalnya harga Isuzu Bison ini menurut Yohannes Nangoi terjadi karena ada kebijakan atau sesuai dengan perjanjian di tiap-tiap prinsipal, yaitu Isuzu dengan Mitsubishi di Jepang. “Kolaborasi dimulai dari Jepang dan bukan di sini. Mereka yang menentukan harga,” ungkap Yohannes Nangoi.

500 unit
Karena harga yang lebih mahal tersebut, target Isuzu terhadap penjualan produk barunya ini tidak muluk-muluk. “Sampai akhir tahun, kami targetkan 2.500 unit. Soalnya sekarang sudah Mei,” lanjut Yohannes. Padahal, diakui, permintaan mobil saat ini, termasuk kendaraan komersial, naik 70 persen dalam tiga bulan pertama 2010.

“Isuzu naik 50 persen. Karena itu, kami juga merevisi target penjualan tahun ini. Bila semula 20.000 unit, kami naikkan menjadi 25.000 unit atau 60-70 persen dibandingkan penjualan tahun lalu,” tambahnya.

Dia juga menjelaskan, proses pengembangan sampai produksi Bison menyebabkan IAMI harus mengucurkan investasi sekitar Rp 50 miliar. Untuk layanan purnajual—karena komponen bodi, sasis, dan mesin sudah ada—konsumen tidak perlu khawatir. “Malah (komponen bodi, sasis, dan mesin) lebih mudah (didapat) karena bisa diproleh di mana saja. Harganya juga  murah,” beber Yohannes.

Harga komponen untuk bodi dan sasis Bison pun sama dengan produk Mitsubishi tadi. Begitu juga dengan komponen mesin dari Isuzu.

Dia menambahkan, target pasar yang diincar Isuzu dengan Bison adalah angkutan barang. “Sebanyak 60 persen pikap digunakan untuk membawa barang. Hanya 10 persen untuk bus,” ungkapnya.


Editor : Zbj