"Recall" Toyota di Amerika Serikat karena Konflik Kepentingan?

Sumber : - | Author : momslikeme.com
Dealer Toyota di Amerika Serikat repot menangani masalah recall.
TERKAIT
WASHINGTON, KOMPAS.com — Isu recall 8 juta unit Toyota secara global dan menjelang dengar pendapat antara Presiden Toyota Motor Corporation Akio Toyoda dan Kongres Amerika Serikat, Rabu (24/2/2010), makin menghangat. Kini, hal itu malah berkembang ke ranah politik. Sebuah analisis menunjukkan bahwa recall tersebut sengaja dimunculkan karena ada "konflik kepentingan".
Bahkan, berbagai kemungkinan recall, misalnya power steering Corolla dan kasus terbaru penghentian pembuktian cacat Toyota pada Oktober 2007, akhir-akhir ini dimunculkan lagi. Dalam hal ini, lembaga yang sangat bertanggung jawab adalah National Highway Traffic Safety Administration (NTHSA).
Lembaga tersebut bagian dari Departemen Transportasi yang telah melaporkan hasil penyelidikan gangguan pada pedal gas dan rem pada beberapa produk Toyota dalam jumlah banyak. Bahkan, hal itu berkembang menjadi recall global.
Protes gubernur
Karena recall, beberapa pabrik Toyota di Amerika Serikat menghentikan produksinya. Hal ini tentu saja menyusahkan kehidupan dan ekonomi masyarakat setempat. Karena itulah, seperti dilansir Bloomberg, empat gubernur dari negara bagian Kentucky, Indiana, Mississippi, dan Alabama—pabrik Toyota berdiri di empat wilayah itu—menilai pemerintah federal punya “konflik kepentingan” dalam masalah recall Toyota. Para gubernur tersebut memprotes tindakan pemerintah federal yang membuat kesimpulan terlalu cepat!
Beberapa media Amerika Serikat mencoba menganalisis masalah lebih dalam. Mereka melihat, lembaga berwenang yang meminta produsen melakukan recall adalah NTHSA. Lembaga ini berada di bawah Departement Transportasi, Amerika Serikat.
Nah, kalau sudah sampai ke pemerintah federal, kaitannya adalah konflik kepentingan. Seperti diketahui, Pemerintah Federal Amerika Serikat punya saham 61 persen di General Motors (GM) dan 10 persen di Chrysler melalui talangan yang dikucurkan pada tahun lalu. Sementara itu, penjualan produk kedua merek tersebut belum bisa mengalahkan Toyota, yang tetap menjadi nomor satu di dunia.
"Gangster Government"
Karena itu pula, muncul kritik yang cukup pedas dari harian The Washington Examiner yang terbit di Washington. Harian tersebut pada 4 Februari lalu menulis di media cetak (juga online) bahwa pembantu Obama yang menangani masalah industri otomotif tak ubahnya "Gangster Goverment". Cara mereka menangani masalah yang dihadapi Toyota dengan General Motors (GM) dan Chrysler berbeda.
Mereka juga mengatakan, cara pemerintah federal mengatasi masalah recall berbau anekdot dan kecurigaan dengan menyebut sumber masalah adalah komponen elektronik yang bisa menyebabkan ganguan elektro-magnetik. Sementara itu, para insinyur Toyota mengatasinya dengan mengganti komponen mekanis yang mengalami gangguan dan menyebabkan pedal gas macet.
Kritik lebih pedas datang dari komentator terkenal radio Amerika, Rush Limbaugh. Ia mengatakan bahwa Sekjen Transportasi Amerika Serikat Ray LaHood bertindak sebagai seorang manajer GM dan Chrysler.
Lebih parah lagi, dalam sebuah wawancara radio, dia mengatakan bahwa pemerintah mencoba merusak citra Toyota. Penyebabnya, "GM dan Chrysler adalah kompetitor Toyota. GM dan Chrysler milik Obama, milik pemerintah federal," katanya.
Kritik itu muncul karena dasar penanganan terhadap produk Toyota yang bermasalah itu tidak lagi sekadar mengarah ke aspek keamanan, tetapi mendiskreditkan.
"Inilah alasan mengapa kami tidak mau pemerintah ikut berbisnis mobil," komentar Mitch Daniels, Gubernur Indiana dari kubu Partai Republik. Ia adalah salah seorang gubernur yang menandatangani surat protes. "Kesannya, pemerintah melakukan diskriminasi terhadap kompetitor," tambahnya.
Proteksionisme dagang
Media Jepang menyatakan bahwa kecurigaan muncul terhadap tindakan recall besar-besaran Toyota di Amerika Serikat. Pada 5 Februari, koran bisnis paling laku di Jepang, Nikkei, mengatakan bahwa Pemerintah Amerika Serikat bersikap terlalu keras terhadap Toyota.
"Peran raksasa produsen mobil Jepang ini terus meningkat di AS, sementara GM dan Chrysler mengarah pada kebangkrutan," tulis Nikkei. Di lain hal, Junko Nishioka, Ketua Dewan Ekonomi RBS Securities di Jepang, mengatakan bahwa Amerika telah menerapkan kebijakan proteksionisme dagang.
"Saya tidak melihat hal ini bisa membuat tren penjualan mobil buatan Amerika naik. Namun yang pasti, Amerika Serikat makin defensif," komentarnya.
Berbagai bukti kecurigaan dukungan pemerintah untuk melemahkan Toyota di Amerika Serikat juga diperlihatkan melalui demo para anggota International Brotherhood of Teamsters dan United Auto Worker (UAW) pada 27 Januari lalu di depan kedutaan besar Jepang di Washington. Para demonstran mengecap Toyota "ancaman bagi Amerika". Mereka menunduh, Toyota mengambil uang Amerika pada program diskon cash for clunkers dengan menjual mobil rusak.
Kepala dingin
"Perlu kepala dingin," kata Shelley Moore Capito, anggota Partai Republik dari Virgina Barat (di negara bagian itu, Toyota punya pabrik mesin dan transmisi). "Mobil Toyota yang saya kenal, kualitasnya bagus. Perusahaan ini memberi gaji bagus kepada karyawannya. Toyota juga terus berusaha mengatasi masalah yang dialami produknya. Lantas apalagi?" komentarnya.

PRODUK BARU
GALERI
MODIFIKASI





